Lahirnya Sebuah Cinta
Sekian
banyaknya penjabaran tentang cinta ,kemungkinan tidak akan cukup jika dikutip
hanya dengan satu buku pun. Membahas tentang
cinta, ternyata manusia hanya bisa menganggap atau mendefinisikan maknanya
sesuai dengan perspektif masing-masing. Ini berarti sudut pandang cintapun
masih relatif.
Penafsiran
cinta lahir tak luput dari kalangan tokoh terkemuka maupun anak muda, bahwa
cinta pun lahir diberbagai ajaran agama. Hal ini dikarenakan bahwa semua agama
mengajarkan umat manusia untuk memiliki cinta di dalam dirinya. Dengan rasa
cinta, manusia akan memiliki perhatian kepada orang lain dan memperlakukan
orang lain dengan baik, sehingga terjalin interaksi yang baik antar sesama
manusia, kelompok masyarakat dan antar bangsa.
Kelahir yang
sesungguhnya terdapat di dalam semesta yang hanya dapat di rasakan dengan
pespektif yang hakiki. Ambil contoh misalnya, kasih seorang kakak kepada
adiknya, dia tak perlu menjelaskan oleh kata-kata untuk itu. Begitu pula ibu,
semuanya sadar bahwa perkerjaannya sudah terlalu berat, tetapi cinta ibu
melebihi apapun terhadap anak-anaknya. Jadi bisa dibulatkan cinta melebihi dari
kasih sayang, karena cinta itu sejatinya sempurna.
Mungkin dari perspektif
tersebut kita sepakat bahwa lahirnya cinta itu menyebabkan kehidupan ini
berarti. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa cinta lahir dengan sendirinya,
bukan karena sebab yang melekat pada obyek yang di cintai. Jadi hakikat cinta sebegitu
kompleksnya ini banyak yang menggampangkan dan menyimpulkan bahwa cinta itu Cuma
hal yang sederhana. tetapi bisa dipungkiri bahwa dari pengertian yang
sederhanapun, cinta bisa dikemukakan.
Cinta yang
sederhana adalah patuh. Jika sudah patuh, dia tidak akan berpaling kemanapun
dan dia ditempatkan dimanapun dia tetap utuh seperti semula dalam bentuk
cintanya.
Orang bodoh
pun berkata 'jangan dekati cinta, karena cinta itu dilarang'. Sebenarnya itu
yang tidak seharusnya diucapkan seseorang yang berfikir kritis. Justru bercinta
itulah yang diharuskan semua manusia agar bisa tahu dan merasakan nikmat (cinta) itu indah. Cinta bisa dimaknai sebuah
nikmat, karena bisanya menikmati cinta yang terlahir kita juga tentunya harus
lahir. Entah apa yang harus diungkapkan ketika seseorang sudah bisa
menglahirkan cinta dalam dirinya. Bisa jadi lahirnya cinta karena adanya kita
ini.
Penulis
pernah berdiskusi kecil dengan Kang Jafar Shodiq. Beliau menegaskan bahwa cinta
itu tidak dilahirkan, ia seharusnya melahirkan; melahirkan kepedulian,
melahirkan kerinduan, dan takut kehilangan. Mungkin itu bisa menjadi bahan
pertimbangan untuk meyakinkan kita, bahwa cinta itu lahir untuk melahirkan
semuanya.
Dalam buku
love karya ade aprilia, di sana Ia menegaskan bahwa Cinta seharusnya bisa
membuat kita bahagia. Namun, pada kenyataannya seringkali kita malah terluka
dan tersakiti karena cinta. Bisa jadi orang yang kita cintai ternyata malah
mengkhianati. Mungkin juga karena kita mengambil langkah dan cara yang salah
dalam mencintai. Jika masih saja menyalahi cinta itu lahir artinya seseorang
masih dalam proses mencari kehidupan yang lebih baik lagi dari proses buruknya
menuju proses buruknya.
Hampir semua
sufi mengatakan esensinya lahir itu adanya wujud dan nampak dikasat mata, jika
itu membuat setuju dan nyata maka membenarkannya. Jadi adanya lahir bisa
bernilai dan bermakna, seperti melihat bunga mawar. Ada yang lebih bernilai
lagi dibalik lahir, tetapi manusia sains belum bisa mendefinisikan itu atau hal
yang sebelum adanya lahir, karena yang lahir belum tentu sejati yang jauh belum
tentu pasti.
Penulis: Abdurrohman As-Suyuti, SE
Editor: Ibnu Ahmad El-Bantani


Post a Comment
0 Comments