Sumber Gambar : https://indoprogress.com/2018/08/menyelamatkan-makna-hijrah-dari-kekalahan-menuju-kemenangan/


Kilauan cahaya dilangit serasa mewarnai gelapnya malam itu, kulihat purnama yang sempurna seolah tersenyum padaku, angin ysng dari kemarin membawa butiran debu dari barat daya kota Tarim pun berhembus tak berhenti membuat dahan pohon menari-nari. Malam itu terasa indah dengan secarik kertas diatas mejaku dengan secangkir kopi hangat dan sebuah pena di tangan kananku kutilis kisah ini dan sudah berwudhu, kisah dimana penjara suci dikota pelajar menjadi awal  jalan hidupku waktu itu. 
 Namaku Akbar Muhamad, seorang lelaki yang berdarah betawi dan campur sunda. Ayahku bernama Ahmad Syafii dan ibu ku adalah Siti Fatimah. Aku memiliki dua orang adik satu laki-laki bernama Muhamad Idris dan satu perampuan bernama Maryam. katanya sih aku anak pertama, tetapi ibuku bilang aku memiliki seorang kakak perempuan yang meninggal waktu dikandungan dan itu anak dari suami ibuku sebelumnya. Kata orang aku anak yang tekun, patuh pada orang tua, rajin, dan penyabar. Aku hidup dari broken home karena ayah ku yang tergila-gila dengan batu akik dan tidak mau memikirkan kebutuhan keluarga, hingga ibuku merantau mencari lembaran dolar kenegeri paman sam. 
 hari itu terasa berat dikepalaku, semua temanku bersorak kegirangan melihat hasil tes masuk Universitas terkenal di berbagai penjuru daerah, hanya selembar kertas ditanganku saja  bertuliskan “tidak diterima”. Apa yang akan ku katakan nanti pada ibuku sementara ibu bilang tahun ini akan pulang untuk mengantar aku mengurus administrasi pendaftaran calon mahasiswa. Seandainya saja aku punya lampu aladin yang bisa mengabulkan berabagai permintaan pasti kan kupinta lulus fakultas kedokteran Universitas Indonesia atau fakultas teknik arsitektur di Universitas Diponegoro Semarang, tapi itu mustahil.   
“Akbar gimana diterima nggak kuliahnya” tanya ibuku lewat Voice Note di whatsapp ku 
“nggak mi” balasku via chat 
“ oh gitu, terus mau lanjut kemana ?” tanya ibu ku kembali via chat  
“ udah umi pulang dulu, nanti Akbar kasih tahu kalau udah dirumah,” pinta ku pada ibuku 
“ yaudah kalo gitu, Insya Allah bulan ini umi bisa pulang, kamu doain aja yah” jawab ibu ku 
“iyah mi “ balasan sebagai penutup percakapan di whatsapp ku. 
 Bajuku basah penuh keringat padahal malam itu udara terasa dingin, terdengar suara detik jam yang nyaring di telingaku seolah ia memperhatikan ku, padahal lampu dikamarku ku 
matikan. Selimut yang kukenakan pun terpontang-panting tidak karuan senasib dengan guling yang kujadikan pengganjal kakiku. Seperti mimpi buruk tapi bagiku itu mimpi yang indah. Seorang berbaju putih dengan wajah yang bersinar datang padaku dan mengalungkan sorban dikepalaku dan memintaku memimpin ribuan jamaah di hadapan ku, orang itu rasanya aku mengenalnya beliau adalah Abuya Ahmad Soleh Bin Mahmud atau orang-orang memanggilnya Abah Oleh, seorang ulama terkenal di tanah kelahiranku kabupaten Tangerang. Aku beranggapan mungkin ini jawaban dari shalat istikharah ku yang kulakukan selama tiga hari terakhir. 
 Arlojiku menunjukkan pukul 21.00 WIB aku dan kedua adik ku berjalan menuju terminal 2 di bandara Internasional Soekarno Hatta, hari itu adalah hari dimana ibuku pulang untuk pertama kalinya, sudah lima tahun lamanya setelah ibuku pisah dari ayahku baru ini ibuku pulang, aku ingat ketika ibuku pergi aku masih seorang anak kecil yang duduk di bangku SMP padahal sekarang tinggi badanku sudah mencapai 175 m, yang sebentar lagi menyandang gelar mahasiswa dan adikku Maryam yang bungsu sekarang sudah mulai menjadi seorang gadis cantik. 
“ka itu umi deh kayaknya” tegas Maryam 
“yang mana dek?” jawab Idris 
“umiii.....” teriak Maryam berlari sambil menghampiri ibuku 
“Ya Allah Maryam sudah besar anak umi” ibuku memeluk Maryam dengan manja 
“sudah punya pacar tuh bu,” kataku sambil mengejeknya 
“ih apaan kali” jawab Maryam. 
 Hari ini seperti Dora yang berhasil menyelasikan misinya, atau seperti tuan krab yang mendapatkan untuk banyak dari hasil penjualan kraby patty. Hati ku serasa senang bisa melihat wajah ibuku yang mulai menua itu. Kuceritakan apa yang telah terjadi pada ku waktu malam itu, dan kujelaskan niat ku untuk melanjutkan pelajaranku ke pondok pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta, pondok yang disarankan oleh pamanku ketika kututurkan niat untuk mondok. Ibuku mengamini permintaanku itu dan saat itulah setatus mahasiswa yang ku idamkan itu akan berubah menjadi santri. Aku senang jika melihat seorang santri dengan penuh kesederhanaan dan ketawaduan. Kopiah dan sarung adalah ciri khasnya, tasbih dan kopi hitam 
adalah kesenangannya. Itu lah yang terbayang di benak ku saat itu, inilah awal dari kisah hidupku yang penuh dengan kesederhanaan. 
 Kuliahat kelangit matahari mulai meninggalkan timur  sementara cahayanya seolah berjalan kearah barat, burung walet mulai pulang keperistirahatannya, sementara semut merah berbondong-bondong mulai memasuki rumah mungilnya. Tetapi disana ada ratusan orang yang menganteri di pintu masuk kereta bengawan tujuan pasar senen-lempuyangan, ternyata itu kereta yang akan mengantarku memulai perjuanganku ini. Ku cium tangan dan kaki ibuku seraya pamitan padanya, tak lupa adikku Maryam menyodorkan bekal untuk ku diperjalanan, sementara Idris berlari dari tempat percetakan tiket dan menghampiri ku. Suara peluit dari petugas kreta api terdengar pertanda akan dimulai perjalan yang melelah Jakarta-Yogyakarta. 
“aku pamit yah mi, doain Akbar” pintaku pada ibu sebelum melepaskan tangan ibuku yang dari tadi sudah kudekap erat 
“hati-hati disana yah, jaga kesehatan, kalo sudah sampai sana jangan lupa kabari Umi” tegas ibuku seoarang yang sangat tangguh tanpa putus lelah mencari kepingan riski untuk bekal belajar anak-anaknya. 
“hati-hati ka, jangan tergoda sama mbak-mbak disana yah” ejek seorang yang suka musik timur tengah yaitu idris. 
“ beres itu mah” balasku sambil mengacak-acak rambutnya yang dari tadi sudah berantakan karena lari seperti seorang yang ingin mencapai finis pada lari maraton. 
“hati-hati ka” kata Maryam anak yang paling manja dikeluarga mungilku yang sudah meraih tangan ku dan menciumnya tanda takdzim pada kakaknya. 
“jaga umi baik-baik yah, kakak berangkat dulu, Asslamualalikum” kataku sambil bersiap pergi meninggalkan keluarga kecilku 
“waalaikumsalam” jawab ibuku 
 Ku buka smartphone kupasang headsat di telingaku, tak terasa ada debu yang masuk kehidungku, saat itu lah aku bersin sebanyak tiga kali, tanpa sadar bibirku bergetar terdengar ucapan Alhamdulillah, namun serasa ada yang mengganjal suasasna itu, wanita yang tepat berada di depanku sedang fokus dengan novelnya itu mengucap yarhamukullah, apa yang terjadi barusan membuatku bertanya-tanya apa maksud dari perkataan wanita itu, sementara 
suasana tenang diiringi suara syekh Muhamad Toha dari headset yang kupakai sedang membacakan surat al-Baqarah yang mulai kuhafalkan dua minggu lalu. 
 Terlihat mentari memberikan warna jingga pada langit kota istemewa ini, murotal yang menemani perjalankan ku telah berhenti karena timer turn on handpond ku telah terlewati ditemani kereta yang kunaiki pun telah lama berhenti, ini kali pertrama kuhirup udara segar di kota pelajar ini, dari kejauhan tercium aroma bakpia patok yang semerbak bak bunga dimusim semi. Dari balik jendela kereta kulihat senyum cerah penarik delman dengan blankon klasik bertabur kuno. Tapi tidak kutemukan pada wanita yang berada tepat didepan ku, wajah yang ditutupi kain hitam dengan mata mungil yang masih tercepajam dan tangan yang mengengam novel yang menemani perjalanannya, tidak itu bukan novel melainkan potongan juz al-Qur’an yang di selipkan didalamnya, dibalik kalbuku aku menyangka ini wanita shaleha. 
“Assalamualaikum, mbak maaf sepertinya sudah sampai !” ucapku kepadanya membuka percakapan. 
“oh ngapunten nggeh mas kulo kesirep, matur nuwun nggeh mas1” jawabnya santai sambil bergegas pergi meninggalkan ku. 
“apa yang dia bilang tadi yah, apa dia tidak mendengar salam ku yah, ah sudahlah” ucapku dalam hati sambil tanganku asik menghidupkan smartpone ku untuk menacari driver ojek online. 
Plang nama pondok alMunawwir Krapyak terlihat dari kejauhan, berlalu-lalang pasukan berpeci  sambil menjinjing kitab ada juga yang mengangkat alQur’an hingga dadanya. Tak kalah santriwati sambil berbincang dengan kawannya lewat di depan SMA Ali Maksum. Sementara ojek online yang duapuluh menit lalu ku pesan tampaknya telah tiba dilokasi tujuannya, sambil menyodorkan uang lembaran duapuluh ribuan sepatu sport yang kukenakan mulai menuju kearah ruangan kecil bertuliskan kantor tapat disamping toko kitab pondok pesantren alMunawwir tujuan pertama ku setelah tiba di kota ini. 
 Mentari semakin berjalan mendekap upuk barat, sementara malam mulai menampakkan wajahnya, terdengar suara anak-anak santri yang sedang murojaah hafalannya, ada juga yang sedang menganteri giliran mandi, ada juga yang sedang membasuh wajahnya, sebagain yang lain mengumandangkan bait-bait alfiyah ibnu malik, sementara aku mengemas pakaianku kekotak almari di sebuah asrama yang bertuliskan komplek K. Terlihat dari jauh 
                                                          
 1 Oh, maaf yah mas saya ketiduran, terimakasih yah mas 
seorang lelaki gagah dengan sepeda ontel kuno mula mendekati komplek, aku sangat kagum pada lelaki itu semua santri tertunduk dibuatnya jangankan para santri kuliah pepohonanpun seolah tunduk padanya, inilah sosok yang aku hormati hingga saat ini dan sampai kapanpun itu beliau adalah Abah Abdul Qodir pengasuh dipondok ku. 
“Jenenge sinten mas?” kata Aldi seorang yang gemar animasi Naruto asal purwokerto 
“.... maaf mas, saya dari Tangerang belum bisa bahasa jawa” jawab ku dengan nada bingung 
“ oalah, hehe maaf-maaf mas, maksudnya nama kamu siapa ?” timbalnya sambil menyodorkan lengan kanannya 
“ oh, nama ku Akbar Muhamad bin Ahmad Syafi’i” jawabku kemudian kami berjabat tangan. 
“kalo gitu tak panggil Ibnu Ahmad boleh” pintanya kepadaku 
“Ibnu Ahmad, hmm kedengarannya bagus, baiklah kalo gitu” kataku menyetujui tawarannya 
 Kurasakan waktu terus mengalir, uang disakuku tinggal seorang pahlawan dan golok gagahnya yang bernama Kapiten Pattimura, padahal bulan lalu ibu tidak mengirimkan uang kepadaku, apa boleh buat karena ibu sudah tidak bekerja. Lapar sudah menjadi teman akrabku dari bulan sebelumnya. Sementara puasa daud adalah caraku mensyukuri kekurangan ini, hanya air putih yang mengalir ditenggorokanku dan beberapa suap nasi sisa teman-temanku yang mengganjal perutku. Itu tidak seberapa pikirku, dibanding kisah Abuya Dimyati Cidahu Banten yang makan hanya tiga butir nasi yang kudengar dari Abah Abdul Qodir selepas menyetorkan selembar al-Qur’an diwaktu subuh.  Aku sangat senang karena ibuku memberi kabar kalau adikku lanjut mondok, meski harus giliran mengirim sebagai kakak aku putuskan untuk minta tidak dikirim agar beban ibuku terasa ringan. 
 Udara pagi terasa panas, padahal jam diarloji menunjukkan angka tapat pukul 10.00 WIB, seorang berlari kepadaku dari jauh tampaknya aku mengenalnya ternyata itu sulaiman seorang yang hobi memancing dan jago dalam membaca kitab, katanya kitab yang senang iya baca adalah kitab Sarah Hikam karya Ibnu At-Toilah as-Sakandari, aku setuju karena kitab itulah yang membuat hati kecilku menangis teringat kebodohan waktu zaman SMA ku dulu. 
“Akbar, Akbar....” teriak Sulaiman ketika melihat ku 
“ kenapa, kenapa? Kok kamu kaya orang dikejar depkolektor gitu sih” jawabku sambil menenangkan akbar sementara Aldi sibuk murojaah Juz 10 dengan nikmatnya 
“Anu, kamu di panggil ke ndalemnya2 abah” jawabnya 
“ono opo to ?3 jawabku yang sudah sedikit mengerti bahasa Jawa 
“ ndak ngerti, yo wes neng kono wae, aku ngenteni neng kene wae yo4” jawabnya sambil mengatur nafasnya yang mulai teratur 
“ok man, makasih yah” jawabku sambil menata sandal ku yang dari tadi pagi pulang karena kemarin sore yang entah siapa yang ghosop. 
“mat, aku ikut” pinta Aldi sembari menutup alQur’an dan mengejarku, sementara aku menganggukkan kepala mengizinkannya. 
 Jalan kupercapat hingga tiba di depan rumah Abah Qodir, hatiku berdetak kencang tak biasanya, ini kali pertama aku merasakan hal seperti ini, berbeda ketika menyetorkan hafalanku pada Abah, kali ini seperti ingin perasaan senang bercampur takut yang aku rasakan, mungkin panas dipagi ini seolah menginformasikan suatu kabar padaku, sambil ku pikir apakah ada Qonun yang kulanggar, atau adakah sikapku yang menyakiti hati Abah, rasanya tidak. Sementara tanganku mengetuk pintu dan mengucapkan salam, sambil duduk berlutut menunggu kehadiran kekasihku Abah Abdul Qodir, sembari Aldi disampingku. 
“masuk le,” suara terdengar dari dalam rumah yang sederhana ini namun penuh dengan ketentraman, tanpa komentar aku dan Aldi yang sudah dari tadi disampingku masuk selaras mencium lengan Abah Qodir dengan penuh hormat. 
“maaf bah, saya mendengar kabar dari kang Sulaiman, Abah memanggil saya?” kataku membuka pembicaraan dengan nada lirih dan wajah menunduk. 
“iyah Ibnu Ahmad, maksud Abah Akbar, abah senang punya santri seperti kamu, sangat tawadu, selalu bersyukur, Abah tahu kalo Ibumu sudah tidak mengirimi uang jajan lagi, keuletan kamu juga patut dicontoh oleh semua santri, apalagi dalam dua tiga bulan ini kamu sudah tes 10 Juz dengan predikat istimewa. Jadi Abah ingin kamu pindah kamarnya ke ndalem Abah, kamu Abah jadikan santri ndalem, jadi semua kebutuhan kamu ikut abah disini.” Pinta Abah Qodir padaku. Aku yang dari tadi tertunduk hanya bilang “ nggeh Bah, kulo manut njenengan mawon5” 
                                                          
 2 Rumahnya 3 Ada Apa yah? 4 Nggk tahu, aku tunggu disini aja yah 5 Iyah Bah, saya patuhi Abah 
 Sekarang orang-orang di pesantren ini mulali mengenali ku Ibnu Ahmad, awalnya aku bertanya-tanya kenapa harus Ibnu Ahmad, jawabannya itu adalah nama kauniyah seperti Abdullah Bin Abbas salah satu sahabat Nabi yang di panggil dengan sebutan Ibnu Abbas. Kulihat kalender sudah mulai berganti tahun, ini adalah satu tahun pertamaku hidup dengan kesederhanaan, lapar adalah sahabat baikku, bersyukur adalah tempat bersandarku pada nikmat yang Allah berikan padaku. Aku rindu pada Ibuku yang sudah menginjak usia 65 tahun dengan senyumnya yang indah bagaikan tumpukkan batu di candi prambanan padahal hatinya menjerit ketika ia mengingat aku yang berada di perantauan, tapi aku selau bilang pada ibu kalau anaknya ini sudah menjadi pribadi yang mengerti akan dari proses mengenali hidup pada hakikatnya. Aku rindu wajah cantik Mariam, aku juga rindu berbagi pekerjaan rumah dengan Idris.  
 Gemuruh suara takbir yang menyenangkan hati terdengar ditelingaku, letihnya berjihad melawan nafsu satu bulan lamanya telah usai, sementara ku lihat status teman-teman di media sosial mereka berwajah ceria nan bahagia karena bisa kumpul bersama keluarganya, namun tidak dengan diriku yang tidak pulang karena uang juara nulis cerpen tingkat DIY habis kubelikan kitab pengajian ramadan kala itu. Tetapi justru aku yang lebih bahagia dari mereka, karena bisa menjadi khodim dirumah Abah Qodir yang penuh barokah ini. Aku sangat senang bisa melayani ulama-ulama besar yang datang bersilaturahim kerumah Abah, seperti KH. Muslim Nawawi beliau adalah pengasuh ponpes Annur Yogyakarta, mbah Maimun Zubair ulama sepuh dari Jawa Timur, dan masih banyak lagi. 
 Duniaku kini terasa berubah, dahulu aku adalah manusia yang haus akan dunia yang fana, shalatku seoalah hujan ditengah padang pasir, apalagi sedekahku. Hatiku dahulu dikendalikan oleh gairah masa muda yang tidak tahu malu dan tanpa ragu bersenang cita karena mendapat pacar baru. Namun saat ini begitu kurasakan cahaya hijrah serasa sesak mengapa diriku yang dahulu amatlah bodoh, padahal Allah sangat sayang padaku. Bayangkan saja setiap saat, setiap detik aku bermaksiat kepadaNya tetapi nikmatnya jauh lebih kurasakan. Untung saja Allah masih berikan aku kesempatan menghirup udara pesantren yang penuh dengan keilmuan. Kesederhanaan yang membuatku tersadar betapa nikmatnya hati merasanya ketimbang hidup mewah dengan hati gelisah. Hatiku seolah ditengah lembah yang gelap dan jauh dari peradaban kini mendapatkan aliran listrik yang bermuara pada penerangan yang sempurna. Sujud ku pada Allah adalah satu langkah diriku bersyukur kepadanya.  
 Enam tahun aku berjuang menjaga kalam-kalam Allah dan berteman dengan kesederhanaan. Saat ini aku melanjutkan studiku dinegeri Yaman yaitu tempat para habaib berkumpul. Ku rasakan semakin ku temukan kesempuranaan cahaya dalam hatiku, cahaya yang selalu di sinari oleh lantunan-lantunan Habib Umar al-Atos. Meski aku bertanya pada hati ku sedang apa ibu sekarang dan bagaimana kedua adikku. Tetapi rindu ini tersapu angin ketika ku sebut nama mereka di dua-pertiga malamku sambil berperasangka mereka dalam rahmatmu Ya Allah. 
-Selesai-