Dalam sebuah perkumpulan atau sebuah kelompok tentu memiliki variasi kepribadian dari anggota kelompoknya, dalam oraganisasi misalnya, penulis salah satu aktivis dari berbagai aktivis baik di kampus maupun luar kampus. Seorang yang sukses biasanya melakukan hal lebih keras dari orang biasanya, mereka yang pulang kuliah rapat dengan mereka yang pulang kuliah “nongkrong” tentu akan memiliki hasil yang berbeda nantinya. Apalagi mereka yang maksimal dalam belajar dan pengabdian pada kampus atau oraganisasinya, siapa yang tidak ingin waktu ia wisuda dengan hasil cumlaude dan prestasi di organasasinya bertengger bak alang-alang di ladang. Namun semua keinginan itu perlu usaha keras untuk meraihnya karena semua itu butuh proses.
Terkadang seruan kita pada teman-teman yang “ tak acuh dengan organiasasi” seperti suara katak di pinggir sawah, berisik tapi tak ada yang mendengankan, hanya padi yang menjadi saksi bahwa suara itu menunjukkan keberadaan dirinya. Kadang dosen pengampu tidak mendengarkan alasan mengapa kita telat masuk karena harus menjadi tukang pos kampus untuk mengantarkan surat undangan rapat lusa. Suara katak yang tidak ada artinya itu bagai gitar yang musisinya hilang di peluk bumi. Ternyata suara katak lebih merdu dari pada teriakan mahasiswa didepan gerbang gedung dewan yang megah berteriak meronta kebebasan untuk sahabatnya yang kebetulan ayahnya buruh dan ia telat bayar semester karena lapak dagannya digusur tanpa solusi.
Sahabatku apa jadinya sawah tanpa suara katak yang minta perhatian sang pemilik sawah itu, suasana persawahan  akan tidak lengkap tanpa suara katak itu. Begitulah ternyata kehidupan kita sebagai mahasiswa, memang harus ada seperti suara katak yang meronta-ronta tidak karuan. Padahal kita tidak pernah tahu bisa jadi suara katak itu esok akan menjadi suara Nisa Sabyan yang mampu didengarkan jutaan telinga, atau suara bung Karno yang menggelegar hati bagi pendengarnya.
Sahabatku semua usaha yang kita tolehkan saat ini percayalah akan terbayar dilain waktu nanti, tidak ada yang sia-sia. Semua itu ada balasannya meski sebesar biji dzaroh berupa kebaikan, atau keburukan. Apalagi jika itu kebaikan maka akan dibalas kebaikan, karena hanya balasan kebaikan untuk kebaikan tidak ada yang lain, itu janji Allah. Hari ini suara kita sebagai mahasiswa yang tidak ada yang mendengarkan, tidak ada yang memperdulikan bukan masalah untuk kita. Tetapi jangan melupakan masa lalu ternyata suara katak mampu menggulingkan seorang raja dari tahtanya, suara katak juga ternyata mampu menanggalkan sang pemilik sawah sebagai kepemilikannya. Dan ternyata suara katak lebih merdu dari suara dawai yang berdayun.
Sahabatku sebagai mahasiswa maukah kita hanya menjadi suara katak dipinggir sawah, maukah kita melihat sawah yang kita miliki diserang oleh tikus-tikus lapar. Masikah kita berpikir setelah lulus harus kerja dengan penghasilan sekian, jadi pegawai negeri dan mendapat tunjangan dihari tua nanti. Jika kita masih berpikir seperti itu apa bedanya kita dengan generasi masa lampau. Sekarang abad 21, generasi yang dimanjakan dengan variasi media online, bukan generasi yang berkabar dengan pranko. Gerakan jari-jemari mu kawan, mari ubah perdaban dunia ini, mari sama-sama kita bangunkan kembali macan asia yang sedang tertidur ini, mari sama-sama kita langkahkan kaki ini. Hari ini boleh kita pinjam berbagai sosial media, tapi besok kita yang menciptakannya.
Sahabatku kita hanya perlu fokus, dan konsisten dengan keilmuan yang kita selami saat ini. Hari ini kita masih dalam tempurung yang terjebak dengan komunikasi kebahasaan kita yang memperihatinkan, tapi esok kita harus menjadikan bahasa kita yang menjadi bahasa dunia. Hari ini boleh kita menjadi penunggu serial anime yang sedang ongoin tapi esok kita yang harus sibuk kejar tayang anime produksi kita. Kita punya potensi, kita bisa, dan kita mampu. Hanya saja gensi dalam sistem saraf pusat kita ini perlu diluruskan, dan perlu disuntikan dengan keilmuan. Didahi kita hanya perlu kita stempel “kita bisa” untuk menunjukkan kepada mereka yang menganggap kita lemah tak punya potensi. Wallahu ‘alam.