essay
Suara katak
Dalam sebuah
perkumpulan atau sebuah kelompok tentu memiliki variasi kepribadian dari
anggota kelompoknya, dalam oraganisasi misalnya, penulis salah satu aktivis
dari berbagai aktivis baik di kampus maupun luar kampus. Seorang yang sukses biasanya
melakukan hal lebih keras dari orang biasanya, mereka yang pulang kuliah rapat
dengan mereka yang pulang kuliah “nongkrong” tentu akan memiliki hasil
yang berbeda nantinya. Apalagi mereka yang maksimal dalam belajar dan
pengabdian pada kampus atau oraganisasinya, siapa yang tidak ingin waktu ia
wisuda dengan hasil cumlaude dan prestasi di organasasinya bertengger
bak alang-alang di ladang. Namun semua keinginan itu perlu usaha keras untuk
meraihnya karena semua itu butuh proses.
Terkadang
seruan kita pada teman-teman yang “ tak acuh dengan organiasasi” seperti suara
katak di pinggir sawah, berisik tapi tak ada yang mendengankan, hanya padi yang
menjadi saksi bahwa suara itu menunjukkan keberadaan dirinya. Kadang dosen
pengampu tidak mendengarkan alasan mengapa kita telat masuk karena harus
menjadi tukang pos kampus untuk mengantarkan surat undangan rapat lusa. Suara
katak yang tidak ada artinya itu bagai gitar yang musisinya hilang di peluk
bumi. Ternyata suara katak lebih merdu dari pada teriakan mahasiswa didepan
gerbang gedung dewan yang megah berteriak meronta kebebasan untuk sahabatnya
yang kebetulan ayahnya buruh dan ia telat bayar semester karena lapak dagannya
digusur tanpa solusi.
Sahabatku apa
jadinya sawah tanpa suara katak yang minta perhatian sang pemilik sawah itu,
suasana persawahan akan tidak lengkap
tanpa suara katak itu. Begitulah ternyata kehidupan kita sebagai mahasiswa,
memang harus ada seperti suara katak yang meronta-ronta tidak karuan. Padahal
kita tidak pernah tahu bisa jadi suara katak itu esok akan menjadi suara Nisa
Sabyan yang mampu didengarkan jutaan telinga, atau suara bung Karno yang
menggelegar hati bagi pendengarnya.
Sahabatku semua
usaha yang kita tolehkan saat ini percayalah akan terbayar dilain waktu nanti,
tidak ada yang sia-sia. Semua itu ada balasannya meski sebesar biji dzaroh berupa
kebaikan, atau keburukan. Apalagi jika itu kebaikan maka akan dibalas kebaikan,
karena hanya balasan kebaikan untuk kebaikan tidak ada yang lain, itu janji
Allah. Hari ini suara kita sebagai mahasiswa yang tidak ada yang mendengarkan,
tidak ada yang memperdulikan bukan masalah untuk kita. Tetapi jangan melupakan
masa lalu ternyata suara katak mampu menggulingkan seorang raja dari tahtanya,
suara katak juga ternyata mampu menanggalkan sang pemilik sawah sebagai
kepemilikannya. Dan ternyata suara katak lebih merdu dari suara dawai yang
berdayun.
Sahabatku
sebagai mahasiswa maukah kita hanya menjadi suara katak dipinggir sawah, maukah
kita melihat sawah yang kita miliki diserang oleh tikus-tikus lapar. Masikah
kita berpikir setelah lulus harus kerja dengan penghasilan sekian, jadi pegawai
negeri dan mendapat tunjangan dihari tua nanti. Jika kita masih berpikir
seperti itu apa bedanya kita dengan generasi masa lampau. Sekarang abad 21, generasi
yang dimanjakan dengan variasi media online, bukan generasi yang berkabar
dengan pranko. Gerakan jari-jemari mu kawan, mari ubah perdaban dunia ini, mari
sama-sama kita bangunkan kembali macan asia yang sedang tertidur ini, mari
sama-sama kita langkahkan kaki ini. Hari ini boleh kita pinjam berbagai sosial
media, tapi besok kita yang menciptakannya.
Sahabatku kita
hanya perlu fokus, dan konsisten dengan keilmuan yang kita selami saat ini.
Hari ini kita masih dalam tempurung yang terjebak dengan komunikasi kebahasaan
kita yang memperihatinkan, tapi esok kita harus menjadikan bahasa kita yang
menjadi bahasa dunia. Hari ini boleh kita menjadi penunggu serial anime yang
sedang ongoin tapi esok kita yang harus sibuk kejar tayang anime
produksi kita. Kita punya potensi, kita bisa, dan kita mampu. Hanya saja gensi
dalam sistem saraf pusat kita ini perlu diluruskan, dan perlu disuntikan dengan
keilmuan. Didahi kita hanya perlu kita stempel “kita bisa” untuk menunjukkan
kepada mereka yang menganggap kita lemah tak punya potensi. Wallahu ‘alam.


Post a Comment
2 Comments
Mantap jiwa
ReplyDeletesiapp makasih banyakk nantikan tulisan yang lainnya heee
Delete