Cerpen
Kesepian di Bulan Juli
“dari mana Bim ko baru balik?” tanya kang Yazid pada ku
“biasa kang, habis bimbingan skripsi” jawabku sambil
memindahkan buku-buku dari dalam tasku ke atas lemari.
“hmm, tinggal dikit lagi munaqosah nih ?” lanjut
Yazid
“insya Allah, doain yah kang. Moga cepat di acc dospim
ku” jawabku, seraya meminta doa pada senior ku ini.
“hehe aamiiiin, bentar lagi kita mayoran nih ?”
timpalnya sambil terkekeh
“heehe siap kang itu mah,” balasku sambil menggantung
kemejaku
“tak mandi sek yo kang” pintaku pada kang Yazid
“ok, oh ya tak pinjem buku menjerat Gus Dur mu yah, dikit
lagi blm selesai tak baca, tertampar aku liat story WA mu yang bilang kejahatan
terbesar itu adalah membaca buku nggak selesai” ucapnya meminta perizinanku
“haha punten loh, monggo itu ada di atas meja, di
tumpukan buku skripiku kang” jawabku sambil perlahan pergi ke kamar mandi.
Sementara sesampaiku di tangga asrama, Ishan menampakkan
wajahnya sambil membawa lengseng berisi penuh nasi beserta lauknya
seraya berkata “baru pulang kamg bim?, ayok makan dulu” pintanya padaku
“tunggu mandi dulu yah” ucapku padanya sambil meyakinkan keinginan
ku
“ok jangan lama-lama loh kang mandinya” pintanya padaku
“ok beres” jawabku mantap
Sore itu, kala senja mulai
menampakkan senyum indahnya. sementara engkau Ra, tak bisa hilang dalam
sanubariku senyum mu itu, adalah harapanku. Kala kau lontarkan sepatah semangat
dalam semestaku. Aku merasa di sini adalah rumah kedua ku. Ra tahukan kamu ? aku
memiliki sahabat-sahabat terbaik di sini. Mereka mengisi ruang kesepian ku kala
engkau tak memberiku kabar tentang perasaanmu padaku. Urusan hatiku padamu aku
lebih memilih kisah Zulaikha yang didekatkan Allah ketika tidak lagi mengejar
Yusuf, dan memberikan hatinya untukNya. Aku lebih memilih itu, aku lebih memilih
menyebut namamu dalam setiap malam-malamku, dalam lamunan khusu pada Tuhan ku
Ra.
Ra, tahukah kamu bahwa
hariku indah bersama mereka yang menyirami hausnya dahaga intelektualku. Aku pernah
kan ceritakan tentang hebatnya seniorku ini. Keren, dan sistematis dalam
berpikir. April hingga juni, kuhabiskan bersamanya. Sungguh menambah optimisku.
Ra, hingga saat ini mengapa sikapmu jadi sedingin ini. Tak ada lagi senyum yang
menghangatkan suasana hatiku. Kenapa dirimu?, atauakah engkau memang akan
meninggalkanku Ra. Kau buat hariku gelisah, kau buat hatiku cemas. Kemana dirimu
Ra? Kemana harus kucari senyum hangatmu itu.
Ujian akhir semester telah
usai, Ishan mengabariku dia akan pulang demi menumpahkan rasa rindu pada
ibunya. Aku mengiyakannya, memberikannya senyum optimis padanya. Dia menemaniku
saat isolasi terkurung pada penjara suci ini kala pandemi menyerang bumi. Ra, pandemi ini memang memenjarakan, dan membelengguh
rasa kita, engkau pun dikalahkan olehnya, dan pulang membawa perasaan rinduku
padamu. Ra, aku di disini bersama Ishan, kang Yazid, dan beberapa mustafa
yang tetap mengais keberkahan Abah Muh memenuhi kitab-kitab yang kosong dengan
kalam hikmahmya, daalam keadaan menahan rasaku padamu.
“kang Bim katanya mau
balik juga?” tanya Ishan sambil menggeser pesan-pesan di whatsappnya
“iya San, rencana habis sidang aku pengen plg. Kamu
juga rencana mau pulang kan?” jawabku, kemudian balik bertanya
“iya kang, ini sudah pesan
tiket” jawabnya mantap
“loh secepat itu San? Nggak
nunggu idul adha yang seminggu lagi ini
“hm, mahal kang tiketnya,
ditambah ini juga masih pandemi” alasannya mantap
“hmm, iya San, tapi sudah
izin Abah kan?” tanya ku memastikan
“sudah kang, alhamdulillah
beliau mengizinkan” jawabnya mantap
“hmm, sip kalau gitu,
hati-hati dijalan ya” jawabku meyakinkannya
“eh kan Yazid ko jarang di
pondok ya? Kemana aja ya” tanyaku
“iya, nggak tau kang saya
juga” jawabnya
Seninku memurung. Berpagi-pagi
sekali aku melihat tas yang terkemas rapih, engkau San telah siap meninggalkan
ku. sementara kang Yazib aku pun belum melihatnya lagi saat terakhir kali kita
makan bareng bersamanya. Mentari mulai menampakkan senyumnya, aku sudah
menjabat tanganmu dan melepas kepergianmu. Tak ingin rasanya aku mengiringmu
pergi hingga bayangmu hilang dalam pandangan mataku. Doaku mengiringi langkahmu
dalam perjalan itulah kepastian ku padamu.
Siang telah tampak. Sementara
ada notifikasi di whatsapp ku, melihat
foto tas yang terkemas rapi dalam group wa kamar tahfidz. Aku tahu itu
tas kang Yazid. Secepatnya ku tanyakan benarkah engkau pun akan pergi. Bergegas
aku memastikan ini menanyakan pada teman-teman yang lain. Ternyata benar kau
sudah mengosongkan barang-barangmu dalam lemari dan meninggalkannya beberapa
sambil mengiklaskan sebagai warisan.
“kang jenengan balik juga
po?” tanyaku pada Kang Yazid lewat whatsappku
“bentar doang ko ?” ucapmu
menutupi
“kalau sebentar kenapa
jenengan melelang barang jenengan dengan keikhlasan” tanyaku memastikan.
“hmm, saya minta maaf
nggak sempat pamit sama kamu, maaf yah kalau selama ini saya ada khilaf dan
salah” jawabmu membenarkan kepergianmu
“Ya Allah kang, secepat
itu kah?” tanyaku tidak percaya
“hm, makasih Bim, sudah
menjadi tempat berdialek intelektual ku. jujur, kamu teman yang menjadi tempat
memuaskan dahaga intelektualku selama ini. Sampai ketemu lagi Bim, semoga kita
bisa bercerita tentang intelektual ini di lain waktu. oh iya kalau nanti kesemerang
sempatkan main kerumah ku” ucapmu memastikan keraguanku
“nggak tau kang saaya
harus berkata apalagi, makasih kang jenengan juga sahabat literasiku, makasih
jenengan juga menjadi menyejuk rasa haus intelektualku, sampai ketemu lagi”
Juliku sepi. Dalam keramaian
ini, aku merasa hampa. Yang satu pulang, yang satu pergi dan entah takkan
kembali lagi. Lagi, dan lagi. Aku akan ditinggal atau meninggalkan kenyamanan
persahabatan ini. Ra apakah kamu juga meninggalakan ku? Ra taukah engkau akan keadaan
ku saat ini Ra. Bukankah dalam setepuk waktu aku telah ditinggalkan keramaian. Warna
dalam hariku menjadi kelabu.
Kang bukankah kita telah
berjanji untuk menghidupkan literasi dan berdiskusi tentang kegelisahan
literasi ini untuk menghidupkan kamar kita dengan dialektika keilmuan, dan
membuatnya panas dalam beridealisme. San bukankah kau menunggu waktu sidang
skripsiku. Aku sudah menyiapkan, dan membayangkan bahwa esok sidangku terasa
ramai. Kita berfoto bersama, dan merayakannya dengan suka cita, sambil
bercerita harapan-harapan kedepannya.
Hariku ditemani kehampaan
dan kesendirian, meski dikeramaian ini. Ku petik korek api, dan kunyalakan
sebatang demi sebatang tembakau yang kugulung rapih. Hanya itu, yang kulakukan
pada hariku setelah kepergian kalian. Ra, benarkah kau juga akan
meninggalkanku. Akalku sudah tak memikirkanmu, tapi jemariku masih terus
menulis tentang mu. Kang, hatiku sudah membaik, tapi hariku masih terasa sepi. Jenengan
mengharuskan ku berdamai dengan kesendirian. Semoga kesehatan, dan keberkahan
selalu membersamaimu. Sampai jumpa kembali. Salam takzim untuk mu. San pesanku
padamu jangan tinggalkan rutinitas yang kita lakukan bersama dengan Abah Muh,
meski berada dalam kenyamanan rumahmu.
<script data-ad-client="ca-pub-1258190076894736" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>


Post a Comment
3 Comments
Duhh terharu banget rasanya bacanya kang. Semangat dan semoga lancar sidang skripsinya sampai hari H, hari dimana sampean wisuda bersuka cita ria.
ReplyDeleteSemangat hayooo fokus sidang😊
ReplyDeletesiappp udah wisuda alhamdulillah....
ReplyDelete