“dari mana Bim ko baru balik?” tanya kang Yazid pada ku
“biasa kang, habis bimbingan skripsi” jawabku sambil memindahkan buku-buku dari dalam tasku ke atas lemari.
“hmm, tinggal dikit lagi munaqosah nih ?” lanjut Yazid
“insya Allah, doain yah kang. Moga cepat di acc dospim ku” jawabku, seraya meminta doa pada senior ku ini.
“hehe aamiiiin, bentar lagi kita mayoran nih ?” timpalnya sambil terkekeh
“heehe siap kang itu mah,” balasku sambil menggantung kemejaku
“tak mandi sek yo kang” pintaku pada kang Yazid
“ok, oh ya tak pinjem buku menjerat Gus Dur mu yah, dikit lagi blm selesai tak baca, tertampar aku liat story WA mu yang bilang kejahatan terbesar itu adalah membaca buku nggak selesai” ucapnya meminta perizinanku
“haha punten loh, monggo itu ada di atas meja, di tumpukan buku skripiku kang” jawabku sambil perlahan pergi ke kamar mandi.
Sementara sesampaiku di tangga asrama, Ishan menampakkan wajahnya sambil membawa lengseng berisi penuh nasi beserta lauknya seraya berkata “baru pulang kamg bim?, ayok makan dulu” pintanya padaku
“tunggu mandi dulu yah” ucapku padanya sambil meyakinkan keinginan ku
“ok jangan lama-lama loh kang mandinya” pintanya padaku
“ok beres” jawabku mantap
            Sore itu, kala senja mulai menampakkan senyum indahnya. sementara engkau Ra, tak bisa hilang dalam sanubariku senyum mu itu, adalah harapanku. Kala kau lontarkan sepatah semangat dalam semestaku. Aku merasa di sini adalah rumah kedua ku. Ra tahukan kamu ? aku memiliki sahabat-sahabat terbaik di sini. Mereka mengisi ruang kesepian ku kala engkau tak memberiku kabar tentang perasaanmu padaku. Urusan hatiku padamu aku lebih memilih kisah Zulaikha yang didekatkan Allah ketika tidak lagi mengejar Yusuf, dan memberikan hatinya untukNya. Aku lebih memilih itu, aku lebih memilih menyebut namamu dalam setiap malam-malamku, dalam lamunan khusu pada Tuhan ku Ra.
            Ra, tahukah kamu bahwa hariku indah bersama mereka yang menyirami hausnya dahaga intelektualku. Aku pernah kan ceritakan tentang hebatnya seniorku ini. Keren, dan sistematis dalam berpikir. April hingga juni, kuhabiskan bersamanya. Sungguh menambah optimisku. Ra, hingga saat ini mengapa sikapmu jadi sedingin ini. Tak ada lagi senyum yang menghangatkan suasana hatiku. Kenapa dirimu?, atauakah engkau memang akan meninggalkanku Ra. Kau buat hariku gelisah, kau buat hatiku cemas. Kemana dirimu Ra? Kemana harus kucari senyum hangatmu itu.
            Ujian akhir semester telah usai, Ishan mengabariku dia akan pulang demi menumpahkan rasa rindu pada ibunya. Aku mengiyakannya, memberikannya senyum optimis padanya. Dia menemaniku saat isolasi terkurung pada penjara suci ini kala pandemi menyerang bumi. Ra,  pandemi ini memang memenjarakan, dan membelengguh rasa kita, engkau pun dikalahkan olehnya, dan pulang membawa perasaan rinduku padamu. Ra, aku di disini bersama Ishan, kang Yazid, dan beberapa mustafa yang tetap mengais keberkahan Abah Muh memenuhi kitab-kitab yang kosong dengan kalam hikmahmya, daalam keadaan menahan rasaku padamu.
            “kang Bim katanya mau balik juga?” tanya Ishan sambil menggeser pesan-pesan di whatsappnya
            iya San, rencana habis sidang aku pengen plg. Kamu juga rencana mau pulang kan?” jawabku, kemudian balik bertanya
            “iya kang, ini sudah pesan tiket” jawabnya mantap
            “loh secepat itu San? Nggak nunggu idul adha yang seminggu lagi ini
            “hm, mahal kang tiketnya, ditambah ini juga masih pandemi” alasannya mantap
            “hmm, iya San, tapi sudah izin Abah kan?” tanya ku memastikan
            “sudah kang, alhamdulillah beliau mengizinkan” jawabnya mantap
            “hmm, sip kalau gitu, hati-hati dijalan ya” jawabku meyakinkannya
            “eh kan Yazid ko jarang di pondok ya? Kemana aja ya” tanyaku
            “iya, nggak tau kang saya juga” jawabnya
            Seninku memurung. Berpagi-pagi sekali aku melihat tas yang terkemas rapih, engkau San telah siap meninggalkan ku. sementara kang Yazib aku pun belum melihatnya lagi saat terakhir kali kita makan bareng bersamanya. Mentari mulai menampakkan senyumnya, aku sudah menjabat tanganmu dan melepas kepergianmu. Tak ingin rasanya aku mengiringmu pergi hingga bayangmu hilang dalam pandangan mataku. Doaku mengiringi langkahmu dalam perjalan itulah kepastian ku padamu.
            Siang telah tampak. Sementara ada notifikasi di whatsapp ku,  melihat foto tas yang terkemas rapi dalam group wa kamar tahfidz. Aku tahu itu tas kang Yazid. Secepatnya ku tanyakan benarkah engkau pun akan pergi. Bergegas aku memastikan ini menanyakan pada teman-teman yang lain. Ternyata benar kau sudah mengosongkan barang-barangmu dalam lemari dan meninggalkannya beberapa sambil mengiklaskan sebagai warisan.
            “kang jenengan balik juga po?” tanyaku pada Kang Yazid lewat whatsappku
            “bentar doang ko ?” ucapmu menutupi
            “kalau sebentar kenapa jenengan melelang barang jenengan dengan keikhlasan” tanyaku memastikan.
            “hmm, saya minta maaf nggak sempat pamit sama kamu, maaf yah kalau selama ini saya ada khilaf dan salah” jawabmu membenarkan kepergianmu
            “Ya Allah kang, secepat itu kah?” tanyaku tidak percaya
            “hm, makasih Bim, sudah menjadi tempat berdialek intelektual ku. jujur, kamu teman yang menjadi tempat memuaskan dahaga intelektualku selama ini. Sampai ketemu lagi Bim, semoga kita bisa bercerita tentang intelektual ini di lain waktu. oh iya kalau nanti kesemerang sempatkan main kerumah ku” ucapmu memastikan keraguanku
            “nggak tau kang saaya harus berkata apalagi, makasih kang jenengan juga sahabat literasiku, makasih jenengan juga menjadi menyejuk rasa haus intelektualku, sampai ketemu lagi”
            Juliku sepi. Dalam keramaian ini, aku merasa hampa. Yang satu pulang, yang satu pergi dan entah takkan kembali lagi. Lagi, dan lagi. Aku akan ditinggal atau meninggalkan kenyamanan persahabatan ini. Ra apakah kamu juga meninggalakan ku? Ra taukah engkau akan keadaan ku saat ini Ra. Bukankah dalam setepuk waktu aku telah ditinggalkan keramaian. Warna dalam hariku menjadi kelabu.
            Kang bukankah kita telah berjanji untuk menghidupkan literasi dan berdiskusi tentang kegelisahan literasi ini untuk menghidupkan kamar kita dengan dialektika keilmuan, dan membuatnya panas dalam beridealisme. San bukankah kau menunggu waktu sidang skripsiku. Aku sudah menyiapkan, dan membayangkan bahwa esok sidangku terasa ramai. Kita berfoto bersama, dan merayakannya dengan suka cita, sambil bercerita harapan-harapan kedepannya.
            Hariku ditemani kehampaan dan kesendirian, meski dikeramaian ini. Ku petik korek api, dan kunyalakan sebatang demi sebatang tembakau yang kugulung rapih. Hanya itu, yang kulakukan pada hariku setelah kepergian kalian. Ra, benarkah kau juga akan meninggalkanku. Akalku sudah tak memikirkanmu, tapi jemariku masih terus menulis tentang mu. Kang, hatiku sudah membaik, tapi hariku masih terasa sepi. Jenengan mengharuskan ku berdamai dengan kesendirian. Semoga kesehatan, dan keberkahan selalu membersamaimu. Sampai jumpa kembali. Salam takzim untuk mu. San pesanku padamu jangan tinggalkan rutinitas yang kita lakukan bersama dengan Abah Muh, meski berada dalam kenyamanan rumahmu.

<script data-ad-client="ca-pub-1258190076894736" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>