Tulisan ini lanjutan dari pembahasan bab pertama buku yang digagas oleh Dr. Phil. Sahiron Samsuddin. Pada bab selanjutnya beliau menjelaskan tentang korelasi antara hermeneutik dengan keilmuan lain yaitu melalui proses dialektika internal maupun dialektika eksternal. 

    Jika kita melihat hal di atas tersebut, maka akan tahu bahwa aliran hermeneutik beragam seperti apa yang dikatakan Nicholas H. Smith misalnya, Ia membagi hermeneutik menjadi tiga macam yang ia sebutkan dalam bukunya strong hermeneutics antara lain: hermeneutik lemah, hermeneutik kuat, dan hermeneutik mendalam.

    Kemudian, Dr. Phil. Sahiron Samsuddin juga Dalam buku ini beliau membagi hermeneutika menjadi beberapa aliran jika dipandang pada pemaknaan teks, diantanya:

    Pertama, Aliran obyektivis adalah aliran yang lebih menekankan pada pencarian makna asal daru obyek penafsiran teks tertulis, teks diucapkan, prilaku, simbol-simbol kehidupan, dan lain sebagainya. Singkatnya penafsiran ini adalah upaya merekontruksi apa yang dimaksud oleh pecipta teks.

    Diantara yang bisa digolongkan dalam aliran ini adalah Friedrich Schleiermacher, Wilhelm Dilthey dan Hirsch. Grant R. Osborne menyebut aliran ini dengan istilah “author-centered hermeneutics” (hermeneutika yang dipusatkan pada –maksud- pengarang.

    Kedua, aliran subyektivis. Aliran ini lebih menekankan pada peran pembaca/penafsir dalam pemaknaan terhadap teks. Aliran ini bisa disebut juga dengan “reader-centred hermeneutics” atau hermeneutika yang dipusatkan pada pemakna oleh pembaca.pemikir dalam aliran ini beragam, ada yang sangat subyektivis ‘dekontruksi’ ada juga yang subyektifis yakni postrukturalisme, dan juga ada yang kurang subyektivis yaitu strukturalisme.

    Derrida memandang bahwa hermeneutika itu adalah sebuah ajang untuk mendekontruksi makna, artinya pembaca teks itu bisa memberikan pemaknaan teks yang dibacanya, artinya setiap teks disini bersifat terbuka untuk ditafsirkan oleh pembaca sesuai dengan pengalamanya. Pengalaman yang dimaksud di sini adalah background keilmuan pembaca teks tersbut.

    Pandangan Derrida persis sama dengan pendapat Stanley Fishm seorang pemikir yang bergabung dalam aliran reader-response critism. Fish beranggapan bahwa teks itu hanya memuat ‘potensi-potensi makna’ dan dari sekian potensi makna tersebut seorang penafsiran/pembaca memilih salah satunya.

    Secara singakat, Gracia mengatakan bahwa pemikir atau penafsir yang tergolong pada aliran ini menegaskan bahwa teks itu dipandang sebagai “self-contained entities” (yang mengandung dirinya sendiri).

    Ketiga, aliran Obyektivitis-cum-subyektivis. Aliran ini adalah aliran yang berada pada tengah-tengah antara dua aliran di atas. Dalam hal pemaknaan terhadap teks yang ditafsirkan, aliran ini berusaha menguak kembali makna untuk masa dimana teks itu ditafsirkan. tentu hal ini tidak menafikan keilmuan lainnya sebagai backing penafsiran teks tersebut.

    Dengan kata lain, aliran ini memberikan keseimbangan antara pencari makna asal teks dan peran pembaca dalam penafsiran. Beliau mengatakan dalam buku ini bahwa aliran ini adalah moderat dari kedua aliran diatas atau aliran ini ingin menguak kembali makna yang asli itu disamping dengan makna yang sudah didekontruksi oleh pembaca teks.