google.com, pub-1258190076894736, DIRECT, f08c47fec0942fa0

 


 Tentang Ibnu ‘Ashyur.

Diantara nenek moyang suku ‘Asyuriyah, Andalusia adalah Syeikh shaleh Syarif Abdullah, Muhammad ibn ‘Ashyur al Husniy. Dari suku inilah muncul seorang ulama yang menjadi tokoh bidang ushul fiqih dan bidang tafsir yang bernama Muhamma al Thahir ibn ‘Asyur.

Nama lengkapnya Muhammad al Thahir ibn Muhammad ibn Muhammad al Thahir ibn Muhammad al Syadzuliy ibn Abd al Qodir ibn Muhammad ibn ‘Asyur. Ia lahir di Mursi Jumadil Awal tahun 1296 H atau pada September tahun 1879 M (Jani Arni, Tafsir al-Tahrir wa al Tanwir Karya Muhammad Al-Thahrir ibn Asyur, 2001:81).

Ibnu ‘Asyur sejak kecil sudah dididik oleh kakeknya yang juga seorang Syeikh di Bu’atur, dari kakeknya ia memepelajari berbagai ilmu agama, seperti hadis, balaghah, kata-kata hikmah dan juga badi’ seperti buku sastra karya al Bahtariy. Ia aktif belajar di Jami’ah kurang lebih selama 6 tahun. Adapun guru-guru Ibnu ‘Asyur ialah Syeikh Abd al Qodir al Taimimiy (Tajwid al Qur’an dan ‘ilmu qiraat), Muhammad al Nakhliy ( ilmu an nahwi dan fiqih malikiy), Syeikh Muhammad Shalih ( ‘ilmu an nahwi, manthiq, dan ilmu maqashid),

Ia juga berguru kepada Amru ibn ‘Asyur (Taqlid al Dimamainiy ‘ala al Mughniy, Syeikh Muhammad al Najar (ilmu kalam dan Musthalah al hadits), Syeikh Muhammad Thahir Ja’far (Ushul fiqih dan sirah nabawiyah), Syeikh Muhammad al ‘Arabiy al Dur’iy (ilmu fiqih). Dari sini bisa dipahami bahwa seorang Ibnu Asyur memilki karakter dalam mempelajari sesuatu tidak hanya puas dengan satu guru (Jani Arni: 81).

Nama Kitab Tafsir Ibnu Asyur Adalah At Thahrir wa Tanwir

At Thahrir wa Tanwir pembahasan Ibn Asyur tentang tafsir selalu dimunculkan dalam majalah yang diterbitkan oleh Al Jami’ah Al Zaitunah. Penerbitannya mencapai 90 edisi. Kemudian kitab At Thahrir wa Tanwir diterbitkan secara lengkap di Tunisia pada tahun 1969 M. Kitab ini terdiri dari 15 jilid yang berisi penafsiran 30 juz dari Alqur’anul karim.

Beliau menjadikan kitab tafsir ini sebagai sarana untuk menumpahkan pemikiran yang belum pernah diungkapkan ulama sebelumnya. Beliau juga berfikir bahwa kitab tafsir terdahulu hanya sebatas kumpulan pendapat-pendapat ulama tanpa inovasi. Dalam pengantar kitab ini dijelaskan bahwa nama kitab ini Tafsir al Ma’na al Sadid, wa Tanwir al ‘Aqlu al Jadid min Tafsir al Kitab al Majid. Nama tersebut kemudian diringkas menjadi al Tahrir wa al Tanwir min al Tafsir.

Pada pengantar kitab ini dijelaskan tentang apa yang menjadi motivasi beliau membuat buku ini serta penamaan kitab ini serta menjelaskan apa saja persoalan yang diungkap dalam tafsir ini. Pada bagian selanjutnya berisikan tentang muqoddimah yang mana berisikan sepuluh muqoddimah, muqoddimah yang pertama berbicara mengenai tafsir, takwil dan posisi tafsir sebagai ilmu.

 Muqoddimah kedua berbiacara mengenai referensi atau alat bantu (istimdad) ilmu tafsir, yang dimaksud alat bantu disini ialah sejumlah perangkat ilmu pengetahuan yang sudah ada sebelum ilmu itu ada. Muqoddimah ketiga berbicara mengenai keabsahan tafsir tanpa nukilan atau ma’tsur dan makna tafsir yang berdasarkan nalar atau bi ra’yi (Jani Arni: 90).

Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa penyimpulan hukum-hukum syari’at dari Alqur’an pada tiga abad pertama Islam hanya terhadap ayat-ayat yang belum ditafsirkan sebelumnya. Pada selanjutnya membahas tentang maksud dari seorang mufasir. Di sini Ibn ‘Asyur menjelaskan apa-apa yang perlu dihadapi oleh seorang mufasir. Muqoddimah kelima membahas tentang konteks asbabun nuzul atau sebab turunnya ayat. Selanjutnya beliau membahas tentang qiraah atau aneka ragam bacaan.

Muqoddimah ketujuh dialnjutkan dengan kisah-kisah Alquran. Pada muqoddimah ke delapan Ibn Asyur berbicara tentang nama, jumlah ayat dan surat, susunan dan nama-nama Alqur’an. Di sini beliau juga membicarakan tentang makna ayat-ayat dan pembatasnya, dari bagaimna pembatas ayat itu mengindikasi sebagai akhir dari sebuah ayat meskipun tidak dalam sebuah kasus. Lalu selanjutnya beliau menjelaskan tentang makna yang terdapat di dalam kalimat-kalimat Alqur’an. Yang terakhir beliau menjelaskan tentang I’jaz Qur’an.

 Tafsir ini banyak berisikan tentang kebahasaan serta sangat perhatian dengan persoalan ilmiah, karena ayat-ayat Alquran banyak mengandung isyarat-isyarat ilmiah. Adapun metode penafsiran ini disebut dengan penafsiran tahliliy (Jani Arni: 90).

Contoh Produk Penafsiran Ibnu Asyur pada kata Kafir dalam QS Al Kafirun

 

Ibnu Asyur dalam menafsirkan surat al-Kafirun ini menggunakan sebab turunnya surat ini. Ibnu Asyur menerangkan sebab-sebab turunnya nya surat ini, diceritakan dengan salah satu sahabat Ibnu Ishaq di dalam ceritanya menjelaskan bahwa saat itu Rasul mengelilingi Ka'bah maka Rosul di halangi oleh Aswad bin Muthalib Bin Asad,Walid Bin mughirah, Umayyah Bin khalaf dan As bin wakil salah satunya berkata kepada rasul dan mereka berkata ya Muhammad “marilah kita membuat kesepakatan dengan kami menyembah dengan apa yang kamu sembah selama setahun dan setelahnya kamu menyembah dengan apa yang kami sembah selama setahun dan kami mengikutimu dan kamu dalam perintahku. Dan jika kamu beribadah dengan baik dengan apa yang kami sembah maka kami mengikuti langkahmu, dan jika kami beribadah dengan baik denga napa yang kamu sembah maka kamu mengikuti Langkah kami (Ibnu Asyur, Tafsir Tahrir wa at-Tanwir, 1984: 580).

Selanjutnya Rasul berkata. Saya berlindung kepada dan jauhkan saya dari perbuatan musyrik dari selain Allah. Maka turun lah Ayat (Qul ya Ayyuhal kafirun.) Surah semuanya. Maka pergilah Rasul ke Masjid Haram yg di dalam nya pemuka-pemuka dari Quraisy membacakan nya kepada mereka dan mereka putus asa dari perbuatan nya

Ibnu Asyur di atas menjelaskan sebabnya turunnya surat ini secara rinci dengan menyebutkan secara jelas siapa yang menjadi lawan bicara Nabi pada saat itu. selain itu, Ia juga menyebutkan bahwa ada suatu kegiatan yang dilakukan Nabi pada saat itu yaitu sedang mengitari Ka’bah. Kemudian dihadang oleh beberapa pemuka kaum kafir Quraish pada saat itu. hal ini untuk secara riwayat dapat dikatakan bahwa penyebutan Kafir pada surat ini ditujukan pada pemuka kaum Quraish yang saat ini menghadang dan berdialog dengan Nabi.

Selanjutnya pada narasi selanjutnya Nabi melakukan tindakan dengan pergi ke Masjidil Haram yang di dalamnya pemuka-pamuka dari Qurasiy dan membacakan surat ini kepada meraka sebagaiman yang disebutkan di atas. Hal ini berarti bahwa Nabi juga mengetahui bahwa para pemuka kaum Quraish pada saat itu merupakan orang yang tuju dari maksud surat ini. Hal ini berarti bahwa surat ini pun relavan pada saat ini karena sebagian manusia pada saat ini pun banyak yang tidak seiman dengan ajaran Islam, pun hingga akhir kiamat nanti.

Ibnu Asyur mengatakan makna kafir dalam surat tersebut adalah bentuk panggilan kepada empat orang yang menghalangi Nabi saat itu dengan melakukan negosiasi terhadap ajakan saling menyembah Tuhan mereka masing-masing.

Ibnu Asyur meriwayatkan sebab turunnya surat ini dalam tafsirnya ini sedikit berbeda dengan apa yang diriwayatkan oleh imam Suyuti. Imam Suyuti mengatakan bahwa sebab turunnya ayat ini dari Ibnu Mundzir yang meriwayatkan kisah yang sama melalui jalur Ibnu Juraij, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Said bin Mina, dia juga menuturkan suatu hari Al-Walid bin Al-Mughirah, Al-Ash bin Wail, Al-Aswad bin Al- Muthalib, dan Umayyah bin Khalaf menemui Rasulullah SAW. Dan berkata: “ Wahai Muhammad, sembahlah apa yang kami sembah dan kami pun akan menyembah apa yang engkau sembah. Setelah itu, kami akan mengikutsertakanmu dalam semua uran kami.” Maka Allah SWT. Menurunkan ayat ini yang artinya, “katakanlah (Muhammad), ‘wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan kamu bukan menyembah apa yang aku sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah, untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku”( Imam as-Suyuthi, Tahq. Hafizh Syi’isya, Terj. Muhamad Miftahul Huda, Asbabun Nuzul, 2018:707).

Ibnu Asyur mengatakan bahwa surat ini disampaikan secara khusus untuk manusia yang menjadi lawan bicara Nabi Muhammad SAW. Ia juga mengatakan bahwa ayat pertama ini merupakan sebuah perintah kepada Nabi dengan perkataan tanpa memerlukan jawaban dari pertanyaan. Artinya makna kafir pada ayat pertama ini adalah bentuk persifatan Allah kepada lawan bicaranya Nabi pada saat itu yang menjadi lawan bicaranya. Ia juga mengatakan bahwa kafir yang dimaksud pada surat ini adalah Aswad bin Muthalib Bin Asad,Walid Bin mughirah, Umayyah Bin khalaf dan As bin wakil, mereka adalah orang-orang yang menghalangi Nabi saat beliau sedang mengelilingi ka’bah.

            Imam Suyuti menjelaskan riwayat turunnya surat ini tidak rinci seperti apa yang dikatakan Ibnu Asyur. Imam Suyuti hanya menyebutkan orang-orang yang menjadi lawan bicara Nabi saja, tidak dengan kondisi yang dihadapkan Nabi. Hal ini menjadi sebuah kelebihan dari Ibnu Asyur bahwa beliau menjelaskan secara rinci siapa yang menjadi lawan bicara Nabi, pun dengan kondisi yang dihadapi Beliau. Sehingga dari sinilah untuk menjawab persoalan saat ini penulis sangat sepakat untuk memunculkan pemikiran Ibnu Asyur kembali. selain menggunakan kajian kebahasaan yang nantinya untuk memberikan kembali wacana bahwa kafir yang dimaksud oleh surat al-Kafirun dengan relevansinya pada saat ini, juga sebagai kerangka argumentasi yang logis untuk menggambarkan kondisi surat ini turun dengan kontekstual saat ini.

            Selanjutnya penulis akan mengupas bagaiamana penafsiran kafir pada surat ini perspektif Ibnu Asyur dalam kitabnya:

 

Surat tersebut di awali dengan kata qul untuk sekedar untuk memfokuskan kata setelah nya yaitu bahwasanya perkataan ini untuk sampaikan kepada manusia dengan cara yang khusus. Dengan demikian ayat ini dari pandangan Al Quran pada pembukaan surat terdapat Perintah dengan perkataan tanpa memerlukan jawaban dari pertanyaan (Ibnu Asyur: 581).

Ibnu Asyur di atas mengatakan ayat ini adalah perintah kepada Nabi untuk mengatakan kepada orang-orang kafir pada saat itu sebuah kebenaran yang diterima oleh Nabi. Hal ini merupakan sebuah perintah yang berat untuk Nabi, karena pada saat itu, Nabi dihadang oleh mereka yang merupakan penguasa kota Mekah. Sedangkan Nabi dan umat muslim pada saat itu merupakan kaum minoritas, akan tetapi perintah ini tetap disampaikan Nabi dengan tetap melafadkan kata qul. Hal ini juga menggambarkan bahwa Nabi merupakan orang yang amanah dalam menyampaikan perintah Allah (wahyu), padahal dengan tidak melafalkan kata qul beliau tetap melafalkan perintah tersebut.

Ibnu Asyur  mengatakan bahwa ayat pertama ini merupakan panggilan kepada empat orang sebagaimana yang telah disebutkan dalam sebab turunnya ayat ini. Ibnu Asyur mengatakan dalam tafsirnya bahwa penyebutan kafir ini dikarenakan orang-orang tersebut menghinakan apa yang ajarkan oleh Nabi dalam ajaran Islam pada saat itu. dengan demikian hal inilah yang menjadi sebab kenapa meraka disebut kafir oleh Allah swt. lewat surat ini. Ibnu Asyur juga menukil riwayat dari al-Qurtubi yang mengatakan bahwa Abu Bakar bin al-Anbari mengatakan bahwa sesungguhnya makna ini “katakan kepada orang-orang kafir” “hay orang-orang kafir” sebagai panggilan kepada meraka dengan mengatakan “wahai orang-orang kafir. Akan tetapi mereka marah dan tidak mau dipanggil dengan panggilan ini (Ibnu Asyur: 582).

Penafsiran Ibnu Asyur di atas merupakan salah satu jawaban dari problematika yang terjadi pada saat ini bahwa hasil batsul masail oraganisasi Islam saat ini yang mengatakan bahwa non-muslim bukan kafir merupakan sebuah sikap kemanusiaan dalam berinteraksi antara umat beragama. penggunaan kata non-muslim ini merupakan bentuk yang bijaksana agar tidak menimbulkan pertikaian dan kemarahan dalam interaksi antar agama saat ini. Hal ini berangkat dari historisitas surat ini turun pada saat itu dan relevansinya pada konteks saat ini.

Kesimpulannya, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibn ‘Asyur adalah sebuah kitab tafsir yang dihasilkan oleh seorang ulama yang berkeinginan kuat untuk menjelaskan persoalan-persoalan yang diungkap oleh Alquran, agar masyarakat mampu mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ibn ‘Asyur dalam menjelaskan makna ayat al-Quran mengkaji dari berbagai aspek, seperti penjelasan tentang munasabah, dan penjelasan makna kebahasaan. Dan sistematika penjelasan ayat ayat dan asbabun nuzul. Model penafsiran seperti ini yang disebut dengan metode tahliliy.

Setelah mengetahui segala aspek pembahasan tentang penulisan ini yang berkaitan dengan penafsiran kafir dalam surat al-Kafirun dalam tulisan ini dapat menyimpulkan sebagai berikut:

 Pertama, Ibnu Asyur mengatakan bahwa surat ini disampaikan secara khusus untuk manusia yang menjadi lawan bicara Nabi Muhammad SAW. Ia juga mengatakan bahwa ayat pertama ini merupakan sebuah perintah kepada Nabi dengan perkataan tanpa memerlukan jawaban dari pertanyaan. Artinya makna kafir pada ayat pertama ini adalah bentuk persifatan Allah kepada lawan bicaranya Nabi pada saat itu yang menjadi lawan bicaranya.

 Ia juga mengatakan bahwa kafir yang dimaksud pada surat ini adalah Aswad bin Muthalib Bin Asad,Walid Bin mughirah, Umayyah Bin khalaf dan As bin wakil, mereka adalah orang-orang yang menghalangi Nabi saat beliau sedang mengelilingi ka’bah.

Kedua, Ibnu Asyur mengatakan makna kafir dalam surat tersebut adalah bentuk panggilan kepada empat orang yang menghalangi Nabi saat itu dengan melakukan negosiasi terhadap ajakan saling menyembah Tuhan mereka masing-masing.

Ketiga, Ibnu Asyur juga mengatakan bahwa penyebutan kafir dalam surat ini menimbukan ketidaksukaan orang-orang kafir pada saat itu karena meraka dipanggil dengan sebutan “hai orang-orang kafir”.

 

Sumber Referensi:

 Arni, Jani “Tafsir al-Tahrir wa al Tanwir Karya Muhammad Al-Thahrir ibn Asyur” Jurnal Ushuludin Vol. XVII, NO. I, Januari Tahun 2001

As-Suyuthi, Imam Tahq. Hafizh Syi’isya, Terj. Muhamad Miftahul Huda, Asbabun Nuzul, Insan kamil, Jawa Tengah, Tahu, 2018

Thohir, Muhammad Ibnu Asyur, Tafsir Tahrir wa at-Tanwir, Juz 30, Darsuhnun Li An-Nasyrwa Al-Tauzi’, Tunisia, Tahun 1984