Cerpen
Hari Pramuka sebagai Momentum atau Iconic
refernsi gambar: https://id.pinterest.com/pin/379287599879729556/
Hallo sahabat angkringan baca 17 yang masih setia dengan berbagaimacam tulisan di blog ini. kembali lagi beretorika dengan penulis -sang presiden Angkringan Baca 17 hehe-. ok tanpa basa-basi lagi, jadi kali ini penulis akan sedikit berdialektika dengan sahabat baca dimanapun kalian berada, mari kita bercerita tentang hari pramuka sebagai bentuk momentum atau sebagai iconik, yuk lah kita langsung keceritanya.
“14
Agustus 1961 diselenggarakan pelantikan Majelis Pimpinan Nasional
(Mapinas), ada Kwartis Nasional (Kwarnas) dan Ketua Kwartir Nasional Harian
(Kwarnari) di Istana Negara dengan diikuti devile pramuka untuk
diperkenalkan kepada masyarakat. Hingga, peristiwa itu ditandai
sebagai Hari Pramuka”. Ucap ku di hadapan sahabat perkopianku malam ini
dengan mas Yazid yang merupakan salah satu senior ku.
“jadi menurut sampeyan Bim, hari pramuka itu jadi momentum atau memang sebuah icon?” ucap mas Yazid menanggapi
“kalau menurutku mas, hari pramuka merupakan sebuah momentum dan juga icon. Karena kalau melihat kode etiknya pramuka itu merupakan dasar moralitas yang tinggi”. Ucapku.
“contohnya?” mas Yazid memotong pembicaraanku.
“jenengan sebenernya lebih paham mas, haduh. Ini mah nguji diriku neh kayanya?” aku menepis perkataan mas Yazid sambil berpikir mencari jawaban.
“ya nggak ngono Bim, ini lagi diskusi loh kita, hahaha”. Ucap mas Yazid sembil terkekeh.
“ok mas, tak jawab sebisaku, hmm. Kode etik pramuka itu kan ada pada tri satya dan dasa dharma to. Nah tri satya itu loh janji anggota pramuka kepada dirinya, agama, nusa dan bangsa ini. Sedangkan dasa dharma berupa sepuluh pedoman hidup dari sisi aturan terhadap Tuhan, manusia, dan alam ini. Nah ini merupakan dasar moralitas yang tinggi terhadap pembentukan karakter manusia mas. Nah kalau sebagai icon, pramuka adalah simbol dari penekanan karakter bangsa kita ini, lah santri juga punya itu to, jadi pramuka dalam membenahi karakter bangsa kaya-kaya memakai esensi karakter santri secara simbol saja si, hmm”. Jawabku sebisanya, sejurus kemudian kuhisap kembali kretek yang hampir menyisahkan puntungnya.
“hahah beda ya, kalau bicara dengan mantan presiden mahasiswa tuh”. Ucap mas Yazid sejurus kemudian ia menyeruput kopi.
“jadi, isi tri satya itu kan seorang pramuka berjanji untuk menjalankan kewajibannya terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, terus menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat, serta menepati dasa dharma. Selanjutkan kalau dasa dharma itu kan ada sepuluh poin pedoman seperti takwa kepada Tuhan, cinta alam, kasih sayang sesama manusia, harus patuh, sopan, disipilin, bertanggung jawab, suci dalam pikiran, perkataan, dan berbuatan. Hmm menarik ini Bim untuk kita kupas”. Tambah Mas Yazid.
“nah itu kan mas. Lah, tiga janji itulah yang ternyata para santri sudah melakukannya. Jangan lupakan sejarah saat 10 November dahulu, para santri dahalu rela berkorban jiwa dan harta untuk mempertahankan kemerdekaan kan, ini yang tak maksud icon tadi mas. Tinggal bagaimana kita tepati sepuluh pedoman ini untuk sama-sama menjadi garda terdepan perubahan bangsa kita ini. Ini yang tak maskudkan sebagai momentum”. Aku menanggapi pernyataan mas Yazid, sejurus kemudian bergantian menyeruput kopi di hadapan kami.
Malam semakin tampak senyumnya, bintang-bintang berhambur memunculkan eksistensinya. Sementara di komplek sebelah lantunan asmaul husna sudah terdengar dengan syahdu santri putri. Lantunan itu menandakan forum perkopian malam ini di teras komplek kami harus segera usai.
“ok Bim, makasih telah menemani ngobrol ngalor-ngidul soal moralitas”. Ucap mas Yazid.
“siap mas sama-sama. Saya juga makasih. Pembahasan moral malam ini sedikit menyinggung soal pramuka karena bertepatan dengan hari pramuka loh saat ini”. Ucapku sambil membenahi gelas sisa ampas kopi.
“haha iya, saya tanya ini karena dulu waktu MA kau aktivis keras pramuka juga kan Bim?” balas mas Yazid.
“iya mas. Tapi itu kan dulu. Sekarang saya kan sebagai santri. Jadi semua nilai yang terkandung dalam tri satya itu sejatinya sudah dipraktekkan oleh santri, seperti kita konsisten shalat jamaah lima waktu, ngaji untuk membentuk gagasan dan akhlak bermasyarakat, tadzim pada para kiai kita, itu semua sebagai janji kita pada Tuhan, diri sendri, agama, nusa dan bangsa. tinggal bagaimana identitas santri yang kita punya ini bisa jadi pedoman dalam hidup kita agar terbentuk karakter yang utuh untuk menepati dasa dharma. Singkatnya ya santri ku, harus ku dharmakan mas”. Jawabku dengan mantap.
“siap pak manpres, aman ko ehehe. Kalau gitu besok kita lanjut obrolan lagi, sekarang siap-siap harus opraki temen-temen santri yang masih tidur, jangan lupa shalat sepertiga malam ini. Karena itu bagian dari satya yang harus kau dharmakan Bim”. Kata mas Yazid sambil bergegas pamit menutup perkopian malam ini.
“siap mas, matur nuwun” ucapku sambil bersalam takdzim pada seniorku ini.
Di malam terjaga ini, ku bersujud dalam keheningan, mengucapkan seluruh doa dalam hati. Setelah aku mencoba membangunkan sahabat-sahabatku yang terlelap, sambil menunggu sang fajar tersenyum di hari bersejarah ini, ku berharap padaMu wahai dzat yang maha menciptakan Moral, di tanggal 14 Agustus ini, Engkau baluti proses berparadigmaku dengan hasduk merah putih melingkar di leherku, dan pada negeriku tercinta, ku ucapkan selamat hari pramuka.
“jadi menurut sampeyan Bim, hari pramuka itu jadi momentum atau memang sebuah icon?” ucap mas Yazid menanggapi
“kalau menurutku mas, hari pramuka merupakan sebuah momentum dan juga icon. Karena kalau melihat kode etiknya pramuka itu merupakan dasar moralitas yang tinggi”. Ucapku.
“contohnya?” mas Yazid memotong pembicaraanku.
“jenengan sebenernya lebih paham mas, haduh. Ini mah nguji diriku neh kayanya?” aku menepis perkataan mas Yazid sambil berpikir mencari jawaban.
“ya nggak ngono Bim, ini lagi diskusi loh kita, hahaha”. Ucap mas Yazid sembil terkekeh.
“ok mas, tak jawab sebisaku, hmm. Kode etik pramuka itu kan ada pada tri satya dan dasa dharma to. Nah tri satya itu loh janji anggota pramuka kepada dirinya, agama, nusa dan bangsa ini. Sedangkan dasa dharma berupa sepuluh pedoman hidup dari sisi aturan terhadap Tuhan, manusia, dan alam ini. Nah ini merupakan dasar moralitas yang tinggi terhadap pembentukan karakter manusia mas. Nah kalau sebagai icon, pramuka adalah simbol dari penekanan karakter bangsa kita ini, lah santri juga punya itu to, jadi pramuka dalam membenahi karakter bangsa kaya-kaya memakai esensi karakter santri secara simbol saja si, hmm”. Jawabku sebisanya, sejurus kemudian kuhisap kembali kretek yang hampir menyisahkan puntungnya.
“hahah beda ya, kalau bicara dengan mantan presiden mahasiswa tuh”. Ucap mas Yazid sejurus kemudian ia menyeruput kopi.
“jadi, isi tri satya itu kan seorang pramuka berjanji untuk menjalankan kewajibannya terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, terus menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat, serta menepati dasa dharma. Selanjutkan kalau dasa dharma itu kan ada sepuluh poin pedoman seperti takwa kepada Tuhan, cinta alam, kasih sayang sesama manusia, harus patuh, sopan, disipilin, bertanggung jawab, suci dalam pikiran, perkataan, dan berbuatan. Hmm menarik ini Bim untuk kita kupas”. Tambah Mas Yazid.
“nah itu kan mas. Lah, tiga janji itulah yang ternyata para santri sudah melakukannya. Jangan lupakan sejarah saat 10 November dahulu, para santri dahalu rela berkorban jiwa dan harta untuk mempertahankan kemerdekaan kan, ini yang tak maksud icon tadi mas. Tinggal bagaimana kita tepati sepuluh pedoman ini untuk sama-sama menjadi garda terdepan perubahan bangsa kita ini. Ini yang tak maskudkan sebagai momentum”. Aku menanggapi pernyataan mas Yazid, sejurus kemudian bergantian menyeruput kopi di hadapan kami.
Malam semakin tampak senyumnya, bintang-bintang berhambur memunculkan eksistensinya. Sementara di komplek sebelah lantunan asmaul husna sudah terdengar dengan syahdu santri putri. Lantunan itu menandakan forum perkopian malam ini di teras komplek kami harus segera usai.
“ok Bim, makasih telah menemani ngobrol ngalor-ngidul soal moralitas”. Ucap mas Yazid.
“siap mas sama-sama. Saya juga makasih. Pembahasan moral malam ini sedikit menyinggung soal pramuka karena bertepatan dengan hari pramuka loh saat ini”. Ucapku sambil membenahi gelas sisa ampas kopi.
“haha iya, saya tanya ini karena dulu waktu MA kau aktivis keras pramuka juga kan Bim?” balas mas Yazid.
“iya mas. Tapi itu kan dulu. Sekarang saya kan sebagai santri. Jadi semua nilai yang terkandung dalam tri satya itu sejatinya sudah dipraktekkan oleh santri, seperti kita konsisten shalat jamaah lima waktu, ngaji untuk membentuk gagasan dan akhlak bermasyarakat, tadzim pada para kiai kita, itu semua sebagai janji kita pada Tuhan, diri sendri, agama, nusa dan bangsa. tinggal bagaimana identitas santri yang kita punya ini bisa jadi pedoman dalam hidup kita agar terbentuk karakter yang utuh untuk menepati dasa dharma. Singkatnya ya santri ku, harus ku dharmakan mas”. Jawabku dengan mantap.
“siap pak manpres, aman ko ehehe. Kalau gitu besok kita lanjut obrolan lagi, sekarang siap-siap harus opraki temen-temen santri yang masih tidur, jangan lupa shalat sepertiga malam ini. Karena itu bagian dari satya yang harus kau dharmakan Bim”. Kata mas Yazid sambil bergegas pamit menutup perkopian malam ini.
“siap mas, matur nuwun” ucapku sambil bersalam takdzim pada seniorku ini.
Di malam terjaga ini, ku bersujud dalam keheningan, mengucapkan seluruh doa dalam hati. Setelah aku mencoba membangunkan sahabat-sahabatku yang terlelap, sambil menunggu sang fajar tersenyum di hari bersejarah ini, ku berharap padaMu wahai dzat yang maha menciptakan Moral, di tanggal 14 Agustus ini, Engkau baluti proses berparadigmaku dengan hasduk merah putih melingkar di leherku, dan pada negeriku tercinta, ku ucapkan selamat hari pramuka.


Post a Comment
1 Comments
Luarr biassa pak
ReplyDelete