Laila dan Majnun, Kisah Cinta Paling Memilukan yang Pernah Terjadi ...


Pelataran rumahku terasa lengang. Mentari mulai meninggalkan bumi, sementara malam mulai tampak senyum indahnya. Ra, aku masih terbayang senyum indah diparasmu itu. ku berikan hatiku, kau balas dengan harapan mu. Kau bisikan rindu pada kalbu ku, ku tumpahkan cinta di atas semestamu. Apa kabarmu hari ini Ra? Sudahkan kau memikirkanku hari ini, sebagaimana aku memikirkanmu tiap waktuku.
Sebatang kretek sedari-tadi ku biarkan terbakar tanpa ku hisap. Jiwaku penuh hanya memikirkan tentangmu. Ra, sungguh kau tega menitipkan gejolak rasa yang teramat dalam padaku tanpa kau beri keputusan yang berarti. Sebenernya kau anggap apa diriku?, ataukah kaupun sama merintih tentang rasa ini. Tinggal hitungan menit aku akan kembali ke tempat penjara suciku. Kau sebut itu pesantren. Tapi tempat itulah yang memenjara rasa yang kita tanam bersama ini. Ra, di tempat itulah kita mulai memandu rasa meski belum sampet terucap. Apakah kau juga sama seperti ini.
“Bim, sudah siap belum. Ayok cepat angkat barang-barang kamu ke mobil. Habis dari stasiun kang Badrun harus ngantar Abah dan Umik melayat kerumah Teh Euis loh!” ucap Abah memecah lamunanku.
“Muhun bah” jawabku penuh hormat, sementara aku masih tetap menunggu kabarmu yang tak kunjung datang.
“Ra, kemana kamu? Apa kamu ingin menyiksaku seperti ini?” gumamku dalam hati.
“punten Aa, biar saya bantu angkat tasnya” ucap kang Badrun menunggu persetujuanku.
“oh muhun mang, hatur nuhun nya” ucapku menyetujui pintanya.
Ra, aku mengenalmu hampir 6 tahun ini. Baru akhir ini kita bisa bercanda lewat chat-chat singkat menemani waktu liburan ini. Tapi seketika kau menghilang menyisihkan dua centang biru di layar chat ku bersamamu. Ra, sejauh ini kita hanya bersapa lewat doa. Pada malam kutitip rasaku pada mu. Pada siang ku taruh harapan ingin berjumpa padamu. Ra, wahai wanita cantik dengan senyum indah di wajah mu. Aku mengagumimu karena aku melihat kasih sayang Tuhanku di sana. Indahnya akhlakmu mencerminkan sosok Dewi Maryam pada Zamannya. Tegarnya sikapmu bak sikap Nuh AS menghadapi kebrutalan kaumnya. Sabarnya hatimu meningatkanku pada Ayub AS dengan ujian hidupnya. Ra, maafkan aku yang tak bisa menggapaimu. Maafkan aku yang tak bisa selalu disampingmu. Ra, aku tahu kamu wanita yang bijaksana. Aku akan menjaga diriku dalam ketaatan pada Rabbku, aku akan selalu memperindah akhlakku, aku akan selalu memantaskan diriku. Begitulah caraku mencintaimu Ra, wanita cantik pemilik nama Rabiatul Adawiyah.
“ntos mang, kita berangkat sekarang”. Pintaku pada pada mang Badrun untuk mengantarku ke Stasin sambil menuju Abah dan Umik seraya pamit.