Cerpen
Sajak Bertemu Majnun

Pelataran rumahku terasa lengang. Mentari mulai
meninggalkan bumi, sementara malam mulai tampak senyum indahnya. Ra, aku masih
terbayang senyum indah diparasmu itu. ku berikan hatiku, kau balas dengan
harapan mu. Kau bisikan rindu pada kalbu ku, ku tumpahkan cinta di atas
semestamu. Apa kabarmu hari ini Ra? Sudahkan kau memikirkanku hari ini,
sebagaimana aku memikirkanmu tiap waktuku.
Sebatang kretek sedari-tadi ku biarkan
terbakar tanpa ku hisap. Jiwaku penuh hanya memikirkan tentangmu. Ra, sungguh
kau tega menitipkan gejolak rasa yang teramat dalam padaku tanpa kau beri
keputusan yang berarti. Sebenernya kau anggap apa diriku?, ataukah kaupun sama
merintih tentang rasa ini. Tinggal hitungan menit aku akan kembali ke tempat
penjara suciku. Kau sebut itu pesantren. Tapi tempat itulah yang memenjara rasa
yang kita tanam bersama ini. Ra, di tempat itulah kita mulai memandu rasa meski
belum sampet terucap. Apakah kau juga sama seperti ini.
“Bim, sudah siap belum. Ayok cepat angkat
barang-barang kamu ke mobil. Habis dari stasiun kang Badrun harus ngantar Abah
dan Umik melayat kerumah Teh Euis loh!” ucap Abah memecah lamunanku.
“Muhun bah” jawabku penuh hormat, sementara aku masih tetap menunggu kabarmu yang tak kunjung datang.
“Ra, kemana kamu? Apa kamu ingin menyiksaku
seperti ini?” gumamku dalam hati.
“punten Aa, biar saya bantu angkat tasnya”
ucap kang Badrun menunggu persetujuanku.
“oh muhun mang, hatur nuhun nya” ucapku menyetujui pintanya.
Ra, aku mengenalmu hampir 6 tahun ini. Baru akhir
ini kita bisa bercanda lewat chat-chat singkat menemani waktu liburan
ini. Tapi seketika kau menghilang menyisihkan dua centang biru di layar chat
ku bersamamu. Ra, sejauh ini kita hanya bersapa lewat doa. Pada malam kutitip
rasaku pada mu. Pada siang ku taruh harapan ingin berjumpa padamu. Ra, wahai
wanita cantik dengan senyum indah di wajah mu. Aku mengagumimu karena aku melihat
kasih sayang Tuhanku di sana. Indahnya akhlakmu mencerminkan sosok Dewi Maryam
pada Zamannya. Tegarnya sikapmu bak sikap Nuh AS menghadapi kebrutalan kaumnya.
Sabarnya hatimu meningatkanku pada Ayub AS dengan ujian hidupnya. Ra, maafkan aku
yang tak bisa menggapaimu. Maafkan aku yang tak bisa selalu disampingmu. Ra,
aku tahu kamu wanita yang bijaksana. Aku akan menjaga diriku dalam ketaatan
pada Rabbku, aku akan selalu memperindah akhlakku, aku akan selalu memantaskan
diriku. Begitulah caraku mencintaimu Ra, wanita cantik pemilik nama Rabiatul
Adawiyah.
“ntos mang, kita berangkat sekarang”. Pintaku pada
pada mang Badrun untuk mengantarku ke Stasin sambil menuju Abah dan Umik seraya
pamit.

Post a Comment
2 Comments
Bagus😊
ReplyDeletemakasihh banyakkk
Delete