AGAMA YAHUDI

 Mata Kuliah : Sejarah Agama-agama

 Dosen Pengampu :  Braham Maya Baratullah, Msi





 PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIRJURUSAN USHULUDDINSEKOLAH TINGGI ILMU AL-QUR’AN (STIQ) AN-NUR YOGYAKARTA 2016
Disusun Oleh:
Ahmad Salim Sholihin
Ahmadi
Muhamad Jamaludin
Muhamad Shoodiq
Surojo



Daftar Isi
I.          Pendahuluan 
II.       Pembahasan 
a.      Sejarah Agama Yahudi 
b.      Kitab-KitabSuci Agama Yahudi 
c.       Intisari Agama Yahudi 
d.       Ummat Pilihan
e.       Konsepsi Tentang Tuhan
f.       Doktrin Dasar Lainnya
g.      Bentuk Dan Tata Upacara
III Penutup
Kesimpulan
Daftar Pustaka




I.                   Pendahuluan
            Kesadaran beragama agaknya telah berakar dalam fitrah manusia. Bila kita selami lubuk hati manusia, dengan tiada mengingat berbagai bentuk dan kelahiran dari bermacam-macam agama, maka kita akan sampai kepada asal-muasal dari manakah pertanyaan tentang keagamaan itu bermula. Para peneliti di bidang psikologi ilmu bangsa-bangsa dan sosiologi telah sampai kepada kesimpulan yang lebih mendasar lagi akan hadirnya sifat azali ini dalam diri manusia. Dibalik sistem-sistem agama itu, dan bersamaan dengan perbedaan di antara agama dengan agama yang lain, maka ada suatu aturan sejarah yang tetap, yang selalu menyelaraskan manusia dalam suatu tatanan tertentu dan cenderung mengejawantahkan dalam bentuk keagamaan. Gambaran tentang dimensi keagamaan ini dapat ditelusuri melalui ber-macam-macam sistem dan melalui berbagai pembahasan. Di satu sisi, hal itu dapat dilihat pada gerak akal fikiran manusia yang tiada henti mempertanyakan dirinya tentang sumber dan asal-usulnya, keinginan jiwanya yang keras untuk menemukan arti sejati dari hidup dan gerak-langkahnya di dunia ini serta upaya untuk mengerti hubungannya dengan segala sesuatu. Di sisi lain keinginan ter-sebut telah mendorongnya mencari sesuatu yang azali dan setia memberikannya ‘kebajikan’ serta mengatur segala sesuatunya. Yahudi di yakini dan di akui salah satu agama teresar dunia, dalam kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai agama yahudi.

II.                 Pembahasan

a.      Sejarah Agama Yahudi
Sejarah Bani Israil dimulai saat Abad Perunggu, di mana orang-orang Semit pindah dari peradaban yang menonjol di Lembah Efrata, mengikuti hancurnya kota tua Ur, dan menetap di negeri perbukitan yang terpisah di Kanaan Tengah dan Kanaan Selatan di tepi Laut Tengah. Pemimpin dari keluarga ini adalah seorang laki-laki, Abram (belakang disebut Ibrahim), yang tegak berhadapan melawan agama purba serta berhala rakyat dan dengan mengikuti wahyu Ilahi, telah mulai percaya kepada ketauhidan yang teratur. Karena keimanannya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan hidupnya yang saleh, Ibrahim dijanjikan bahwa keturunannya yang tulus akan menjadi sumber rahmat yang lestari bagi bangsabangsa di muka bumi ini. Risalah Ibrahim a.s. terhadap Tuhan selanjutnya diteruskan oleh putera-puteranya, Ismail dan Ishak, dan setelah itu oleh Ya’qub yang mengalami peristiwa ajaib di mana dia bergulat dengan salah satu malaikat, yang kemudian dinamakan Israel, suatu istilah yang berarti kampiun Tuhan. Ya’qub mempunyai duabelas putera yang menjadi cikal-bakal dari duabelas suku yang beberapa waktu kemudian membentuk Bani Israil. Melalui rangkaian
peristiwa dan keadaan, maka Yusuf salah seorang putera Ya’qub bangkit dari perbudakan, dan menjadi Gubernur di Mesir yang padasaat itu diperintah oleh Hyksos, seorang Semit keturunan asingyang dekat hubungannya dengan Yahudi. Setelah itu, Bani Israilpindah secara besar-besaran ke Mesir dan dalam jangka waktu yanglama mereka menikmati keuntungan dan pengaruh yang besar disana. Tetapi karena bangkitnya nasionalisme bangsa Mesir dibawah Pangeran dari Thebes dan dijatuhkannya Hyksos olehAahmes sekitar tahun 1580 SM, maka Bani Israil merosot menjadibudak belian. “Maka sekarang bangkitlah”, kata Alkitab, “seorangraja baru di tanah Mesir yang tidak mengenal Yusuf … danmemper-lakukan Bani Israil dengan buas dan kejam. Dan merekamembuat kehidupannya penuh dengan kerja paksa membuatkeramik, batu bata, dan segala macam kerja bercocok tanam di
ladang: semua yang mereka kerjakan dan pelayanannya adalahpenuh kekejaman”.Ketika nasib Bani Israil menjadi benar-benar tak tertahankanlagi di bawah Fir’aun Ramses II, Tuhan membangkitkan seorangpemimpin besar bernama Musa untuk mengangkat mereka daripenderitaannya dan mempersatukan mereka dalam satu bangsa.Musa dibesarkan dan diangkat oleh salah seorang ratu Mesir. Tetapiketika beranjak dewasa, dia terpaksa melarikan diri dari negeri ituke tanah berpadang rumput, Midian, di sana beliau bekerja,menikah dan selama beberapa tahun bekerja sebagai penggembala.Pada suatu hari, ketika beliau sedang menggembalakan ternaknyadi Gunung Sinai sampailah di bukit Horeb, dan di sana tampakpancaran sinar yang menakjubkan di semak padang pasir yangpekat, dan beliau mendengar suara Tuhan yang menyeru agarkembali ke Mesir untuk mengangkat saudara-saudaranya daripenderitaan, dan memimpin mereka ke Tanah Yang Dijanjikan.Mengikuti seruan itu, Musa kembali ke Mesir dan berkali-kalimembujuk Bani Israil untuk berangkat bersamanya. Mereka dikejarFir’aun dan bala tentaranya. Bani Israil tertolong oleh apa yangdinamakan mukjizat, yakni campur tangan Tuhan denganmenyeberangi Laut Merah di suatu tempat dekat Suez, sedangkanorang-orang Mesir itu ditenggelamkan. “Demikianlah Tuhanmenyelamatkan Bani Israil pada hari itu dari kejaran orang-orangMesir, dan Bani Israil melihat orang-orang Mesir itu mati dariseberangnya pantai. Dan Bani Israil melihat karya besar yangdilakukan Tuhan terhadap orang Mesir, dan orang-orang itu puntakut kepada Tuhan, dan percaya kepada Tuhan serta hambaNya Musa.” Di padang gersang Gurun Sinai di mana Bani Israil tiba setelahmelarikan diri dari Mesir, Musa menerima Sepuluh Perintah dan
tercantum dalam Taurat melalui sejumlah Wahyu Ilahi. Tetapiketika beliau sedang pergi, Bani Israil melupakan Yahweh(Yehovah), Tuhan Yang Esa, dan mulai menyembah sapi emas.Karena penyelewengannya ini mereka terpaksa menderita danmengem-bara di padang gurun selama empatpuluh tahun. Musa,Nabi Besar Bani Israil wafat sebelum beliau dapat memimpinbangsanya ke Tanah Yang Dijanjikan. Mengutip seorang pengarangYahudi, “Bani Israil belum siap untuk masuk ke Tanah itu, begitupula Tanah itu belum siap menerima mereka.”Akhirnya Bani Israil memasuki Kanaan (Palestina) setelahmenyeberangi Sungai Yordan dekat Laut Mati di bawah pimpinanYoshua. Setelah mengalami pertempuran pahit dan lama dariserangan orang-orang Arab setempat yang telah menghuninyabertahun-tahun, mereka dapat menguasai bagian terbesar dantersubur dari tanah itu. Segera setelah Yoshua wafat, Bani Israilmengingkari lagi ketauhidannya yang murni sebagaimana telahdiajarkan oleh Musa a.s. dengan Wahyu Nya, dan mulaimenyembah dewa-dewa setempat seperti Baals dan Astertes. “BaniIsrail sungguh-sungguh tergoda”, tulis Pendeta Allan Menzies,“untuk memakai apa yang mereka peroleh dari orang-orangKanaan. Tempat-tempat suci yang lama, tidak mau merekapergunakan. Mereka berfikir adalah sungguh aneh jika sebagaipetani mereka tidak mengadakan pesta panen dan lazimnya merekayang menghormati Baals dari Kanaan, sebagai tuhan tanah itu danpemberi kesuburan serta rasa syukur mereka atas hasil panendialamatkan kepadanya. Penyembahan mereka kepada Yehovakelihatannya kurang dan tak berarti dibanding apa yang diberikanoleh bangsa Kanaan kepada Baals, karena itu mereka jugamendirikan asheras dan batu-batu monumen serta Yehova sendirimereka buat patung-patungnya. Salah satu patung ini dihancurkanoleh Hezekiah berbentuk seekor ular, di tempat lain Yehovadisembah dalam bentuk seekor beruang. Di mana patung tersebutdipelihara, di situ orang dapat berkonsultasi perihal nasib denganberbagai cara. Perahu atau zirah disimpan dalam kuil-kuilnya, danbenda itu dibawanya nanti kalau berperang.” Namun demikian, tidaklah berarti praktik keberhalaan ini tidakmendapat tantangan. Pemimpin-pemimpin yang berani yangdisebut ‘Hakim-Hakim”, sekitar duabelas orang menentang praktikdan kepercayaan yang menghancurkan jiwa ini, dan munculahperan sebagai pembebas terhadap penindasan. Mereka menyeruummat ke arah penyembahan murni kepada Yahweh. TetapiHakim-Hakim itu bukanlah para pahlawan nasional. Mereka hanyapahlawan suku dan pengaruhnya tidak dapat mengatasi krisistersebutPada masa Samuel, yakni akhir para Hakim-Hakim, telah lahirpraktik-praktik tersebut ke seluruh Kanaan dan mereka punterpecah belah. Namun bahaya baru pun muncul kepada Bani Israildalam bentuk serangan bangsa Palestina yang membinasakanbanyak kota-kota Israil dan menduduki kota Ark. Maka bangkitseruan di kalangan Bani Israil untuk seorang raja yang dapatmempersatukan mereka sebagai suatu bangsa di bawah satupemerintah pusat yang kuat dan yang akan memimpin merekadalam peperangan melawan musuh-musuh mereka. Orang yangterpilih sebagai Raja pertama dari Bani Israil adalah Saul. Tetapihanya beberapa waktu, setelah itu dipimpin oleh Raja kedua, Daud(1012 – 972 s.M), maka Bani Israil mencapai puncak kekuasaandan kemuliaan. Daud mempersatukan seluruh suku bangsa dalamsatu negara yang kuat dan memenangkan beberapa penaklukanyang gemilang di medan perang, dengan demikian memperluastapal batas Israil. Beliau menaklukkan Yerusalem, danmenjadikannya sebagai ibukota kerajaannya. Beliau membersihkanagama Yahudi dari anasir-anasir purba dan mengorganisir kembaliupacara-upacara agama di tempat-tempat ibadah. Pemerintahannyasungguh merupakan abad keemasan bagi Bani Israil.Kebijakasanaan Daud a.s. dalam memusatkan kekuasaanpolitik dan keagamaan diteruskan oleh putranya, Sulaiman, yangmembangun satu Kanisah mengagumkan di Yerusalem danmenjadikan satu-satunya rumah ibadah yang mengatasi tempattempatibadah lainnya di seluruh negeri. Pemerintahan Sulaimanadalah masa damai yang tiada taranya bagi Israil. Hal ini jugaditandai dengan kemajuan baik material maupun kultural. Armadaniaga Sulaiman mengarungi samudera sampai ke negeri yang jauhjauh,dan kembali ke Israil membawa kekayaan dari berbagaibangsa. Kesenian dan ilmu pengetahuhan berkembang pesat.Sulaiman sendiri melaksanakan kebijaksanaan, keahlian,kecermelangan, dan menghasilkan karya tulis yang sangatberlimpah demi perkembangannya.Kesatuan Israil secara politis maupun agama tidak berlangsunglama. Setelah wafat Sulaiman a.s. mereka terpecah menjadi duakerajaan. Sepuluh suku bangsa di Utara membentuk kerajaan Israildengan ibukota Samaria dan Jeroboam sebagai raja pertamanya;dan dua suku bangsa di Selatan, yakni suku Yudah dan Benyaminmembentuk kerajaan Yudea dengan ibu kotanya tetap diYerusalem.Tetapi Bani Israil menyeleweng dari agama monoteisme yangbermoral ajaran Musa dan para Nabi yang lain. Di bawahpemerintahan Ahab beserta istrinya yang berasal dari luar negeridan sangat mendominasi, Yezebel, maka pengabdian kepadaYahweh, yakni Tuhan Yang Esa dan Sejati, digeser denganpenyembahan kepada Baals, yakni tuhannya bangsa Tyrus berikutupacara-upacara pesta panen serta korban manusia. Nabi Ilyas
bangkit di tengah-tengah mereka untuk memperingatkan Bani Israilatas kemerosotan agama dan akhlak mereka. Beliau diikuti olehNabi Amos yang mengutuk kemewahan dan korupsi di zamannya.Beliau mendakwahkan bahwa Tuhan tidak meridhoi hari-hari pestadan sesaji korban, tetapi Dia meridhoi bila kita bersikap tulus danberlaku adil. Namun peringatan para Nabi ini hanya masuk ketelinga orang-orang yang benar-benar sudah tuli, sehingga akhirnya
Tuhan mengutus Nabi Hosea untuk menyelamatkan mereka dariancaman siksa. Taubat kepada Tuhan dan kembali ke jalan yangbenar rupa-rupanya sudah tidak dapat diharapkan lagi, sehinggaazab yang paling pahit pun tiba kepada Bani Israil, yakni merekaditaklukkan dan dibuang akibat dosa dan kejahilan mereka sendiri.Pada tahun 738 s.M, seluruh tentara raja Assyria, Tiglath-Pilesar IIImenghancurkan kerajaan Israil dan menjadikannya sebagai jajahandan miskin. Pada tahun 721 SM, Sargon II melihat tanda-tandapembangkangan dan pemberontakan di kalangan Bani Israil, danmenghukum mereka dengan memindahkan hampir seluruhpenduduk ke bagian-bagian yang terjauh dari kekaisarannya yangluas itu. Demikianlah maka kerajaan Israil pun lenyap dari sejarah.Pada masa kerajaan Yudea, dinasti yang didirikan Daudtersebut tetap berlangsung tanpa gangguan untuk beberapa waktu.
Beberapa raja yang awalnya beriman kepada agama Musa, tetapiketika Yehoram naik tahta maka terjadi kerusakan. Istri Yehoramyang saudara perempuan Jezebel telah mempengaruhinya, dan iamenganjurkan penyembahan Baals tuhan bangsa Tyrus yangmerupakan penyebab kehancuran kerajaan Israil. Kini kerusakanagama dan dekadensi moral jadi merata di Israil.Tetapi tidak semua raja mereka rusak. Ketika Hezekiel menjadiraja, beliau mencoba sekuat tenaga melenyapkan praktik-praktikkeberhalaan dan membentuk kembali agama Musa. Dalam hal ini,dia dibantu oleh Nabi Isaiah dan Micah. Dengan misi yang samadengan para penduhulunya, yakni nabi Amos dan Hosea, merekamenyerang kerusakan moral dan kemewahan yang melemahkandan berkembang biak di Yudea itu. Mereka berdua menekankanbahwa sesaji itu betapun sangat terinci cara menghidangkannya,
tidaklah dapat menggantikan keadilan dan ketulusan. Merekamemperingatkan bahwa Yerusalem akan mengikuti nasib Samaria,kecuali kalau kaum itu mau bertobat dan merombak cara hidupmereka.Raja yang mulia lainnya adalah Yosiah yang naik tahta padatahun 640 s.M. Kitab Raja-Raja menceritakan kepada kita bahwapada tahun 621 s.M, Hilkiah kepala pendeta mengirim suatu catatankepada raja Yosiah bahwa dia telah menemukan Kitab sejati darisyariat Musa di rumah Yahweh. Kebanyakan kritikus beranggapanbahwa buku ini sebagiannya sama dengan Kitab Kejadian yang adasekarang. Dinyatakan bahwa ini adalah syariat Musa a.s. yangdiberikan kepada Bani Israil lebih dari 800 tahun sebelumnya.Dengan bersenjatakan Kitab ini, Yosiah mengadakan perombakkanyang drastis mengenai agama di Yudea. Penyembahan yang bersifatpoliteisme dilarang, berhala-berhala dibinasakan, pelacuran yangberkedok kesucian dan korban manusia dihapuskan, begitu pula dikuil-kuil lokal. Tetapi kira-kira pada saat itu, terjadilah peristiwayang menggoncangkan dunia, sehingga hancurlah harapan perombakan yang dilakukan Yosiah. Kekaisaran Assyria berakhirsecara mendadak, Mesir dan Babylonia segera terlibat perang besaruntuk mengisi tempat yang ditinggalkan kosong di Asia Barat itu.Yudea menjadi korban persaingan antara dua adikuasa ini. NabiYeremiah bangkit pada saat itu untuk melawan kebodohan dankejahatan di kalangan rakyat Yudah, serta memperingatkan merekaterhadap keruntuhan yang ditimpakan di atas kepala mereka.Peringatan dan petuahnya tidak digubris. Pada tahun 586 s.M.Nebuchadnezzar, raja Babilonia menyerang Yerusalem. Iamenghancurkannya menjadi puing-puing berserakan, dan ia lalumemindahkan kaum Yudea ke Babilonia. Demikianlah maka Yudeapun mengalami nasib yang serupa seperti sepuluh suku Israil yangditawan dan dihinakan. Tetapi walaupun suku-suku Bani Israillainnya lenyap dan terpencar kemana-mana di berbagai negeri,hanya Yudah sendiri yang masih bertahan. Yudaisme berasal namasuku Yudah dan para pengikutnya yang kemudian dikenal sebagaiorang Yahudi.Pada tahun 535 .s.M., Cyrus, raja Persia yang besar menjadipenguasa Babilone. Bani Israil mulai merasakan hubungan yanglebih akrab dari penguasa sebelumnya. Salah satu keputusan Cyrusyang pertama kali adalah memperbolehkan mereka kembali keYudea sebagaimana mereka kehendaki, lalu beberapa ribu orangmendapat izin tersebut. Di bawah seorang Pangeran bernamaZerubbabel dan ditemani Yoshua sebagai kepala pendeta, parapengungsi kembali. Setelah tertunda beberapa lama, mereka punberhasil membangun kuil dan menegakkan peribadatan kembali.Para nabi, Haggai, Zehariah, dan seterusnya, Malachi (di tangan dianubuwwat Ibrani berakhir) muncul di kalangan mereka untukmembangkitkan dan menegakkan kembali agama yang benar. Pada tahun 458 s.M. Ezra si Penulis datang ke Yeruzalemdengan dilengkapi wewenang kerajaan yang diperoleh dari rajaArtexerxes I Longimanus, untuk memperkenalkan dan mewajibkansuatu Hukum Kependetaan yang berkembang di Babilonia. Ezramengobarkan bentrokkan yang berkepanjangan, melawanperkawinan campuran, dan dengan pertolongan para pendeta sertapenulis, menyusun dan memberi bentuk akhir pada kitabPentateuch atau Lima Kitab yang dinisbahkan kepada Musa a.s.dalam Alkitab sekarang. Periode ini ditandai dengan adanyapemerintahan para pendeta dan bangkitnya negara teokratis diYudea di bawah perwalian Persia.Kekuasaan Persia berakhir di Yudea pada tahun 333 s.M. ketika Iskandar yang Agung, si penakluk segera menguasai Asiadengan mudahnya dan menaklukkan Palestina. Missi Iskandar yangAgung adalah menyebarluaskan peradaban dan idea Hellenisme,tetapi dia tidak percaya atas digunakannya kekerasaan. Diamembiarkan bangsa Yahudi bebas memeluk agama dan tata carahidupnya. Ketika Iskandar mangkat, Palestina untuk pertamakalinya jatuh ke tangan raja-raja Yunani dari Mesir, yakniPtolomieus yang pemerintahannya sebagian besar halus dan toleran.Namun belakangan raja Seleucid dari Syria memegang tampukkekuasaan dan dibawah dinasti ini ada seorang tiran namuncekatan, Antiochus IV. Dia membuat sejarah baru denganmemasukkan kebudayaan Hellenisme untuk membuat beradaborang-orang Yahudi dari Yudea. Demi tercapainya maksud ini, diamenekan praktik agama Yahudi dan meruntuhkan kanisah-kanisah,serta membakar kitab-kitab sucinya, sambil menganiayabarangsiapa yang merintangi usaha mereka. Tentunya dia jugamemperoleh sekutu dari kalangan bangsa Yahudi. Segolonganbesar menganggap bahwa kemajuan peradaban ditandai denganmampu berbahasa Yunani dan memakai nama Yunani, sertamemperoleh kedudukkan yang tinggi dalam kependetaan. Akhirnyakaum Yahudi ortodoks bangkit dalam revolusi melawan tiran ini,dan di bawah pimpinan Mathatiahs serta putranya Maccabees,memperoleh kemenangan yang mengejutkan. Tiga tahun setelahdipecahbelah rumah-rumah ibadahnynya, mereka dapatmemperbaiki dan memurnikan kembali. Antichous mangkat di kota Tabae Persia, dan panglimanya Lyaisas memberikan toleransikepada bangsa Yahudi.Beberapa kelompok Yahudi sudah merasa puas dengandiperolehnya kebebasan beragama, tetapi yang lain inginmenyingkirkan sama sekali penguasa Selecuid sehingga dapatdiperoleh pula kebebasan berpolitik, dan ini mengakibatkan korbanatas Maccabean bersaudara. Akhirnya pada tahun 143 s.M. Simonsebagai Maccabean yang terakhir dan tersisa dapat mengusirpenguasa Syria dari Yeruzalem. Simon terpilih sebagai PendetaTinggi yang pertama merangkap sebagai Kepala Negara denganpangkat Nasi, dan negara Yahudi baru pun dibentuk.Putera Simon yang bernama John Hyrcanus yang menjadipenguasa berikutnya adalah seorang yang penuh ambisi dan diamulai bertempur dengan negeri-negeri tetangganya untukmembentuk kekaisaran dirinya. Dalam nasionalisme yang agresif,John Hyrcanus dilawan dengan kuat oleh kaum Farisi yang bersamakaum Saduki membentuk dua golongan utama yang muncul sejaksaat itu. Kaum Saduki mendukung dia sepenuhnya.Dengan berlalunya waktu negara Yahudi semakin lemah,karena pertentangan dalam tubuhnya sendiri dan peperangan. Adadua orang yang mengangkat diri sebagai raja dan keduanya meminta bantuan Romawi. Pompey menjawab seruan itu, merekamaju ke ibu kota, menguasai dan menaklukkannya pada tahun 63s.M. Yudea sekarang berada di bawah kekuasaan Romawi dandijadikan propinsi di bawah pimpinan Hyracanus III, yakni salahseorang yang meminta bantuannya dan diangkat sebagai PendetaTinggi namun tanpa jabatan raja lagi. Ketika Caesar menjadipenguasa di Roma, dia menunjuk Antipater seorang yang barumasuk agama Yahudi sebagai pelindung Yudea. Antipater lalumenunjuk Herodes sebagai Gubernur Galilea. Pada tahun 39 s.M.Herodes dijadikan raja Yudea oleh Senat Romawi. Meskipunnampaknya merdeka, namun sesungguhnya Yudea terikat kepadaRomawi. Herodes adalah seorang yang cakap, dan dia telah berbuatbanyak bagi negeri dan rakyat di bawah kekuasaannya. Namunbangsa Yahudi masih tetap merasa dia sebagai boneka Romawi danyang pasti dia tetap menempatkan kepentingan Romawi di atas segalanya Selama periode ini, kaum Yahudi terbagi dalam berbagaigolongan dan sekte. Yang pertama adalah kaum Saduki, yakni kelompok yang memihak Romawi dan dipimpin oleh pendeta Yerusalem. Mungkin saja mereka bukan merupakan partai besar,dan hanya terdiri dari pamong Yerusalem dan juga mereka yangsecara langsung berkepentingan dengan mereka, yakni kaumbangsawan dan para petani. Kaum Saduki menganggap enteng pada kewajiban agamanya, dan sangat bersungguh hati dalam masalah politik. Mereka tidak percaya akan adanya kehidupan sesudah mati, dan sangat condong kepada urusan duniawi, selalu menghindari kesulitan dan berambisi untuk kaya raya. Sebaliknya, kaum Farisi merupakan partai yang popular dan condong pada masalah agama dari politik. Isu politik utama yang sangat menjadi sorotan mereka adalah kebebasan beragama, dam mereka menyongsong kemerdekaan nasionalnya tetapi tidak dengan jalan revolusi, tetapi dengan melalui datangnya Putera Daud, seorang Juru Selamat (Almasih) yang bukan Tuhan tetapi akan menerima dari Dia wewenang untuk memerintah negeri ini. Mereka sangat cermat dalam penafsirannya, dan dalam mengikuti syariat Yahudi seringkali sombong dan kikir. Perbedaan utama antara kaum Saduki dan Farisi adalah (1) Kaum Farisi percaya hidup sesudah mati, sorga dan neraka, kebangkitan kembali secara umum, dan Kerajaan Almasih; kaum Saduki menolak seluruh ajaran ini dan menganggpnya sebagai bid’ah, (2) Kaum Saduki hanya percaya pada apa yang tertulis dalam Taurat, sedangkan kaum Farisi juga percaya kepada riwayat lisan dan tafsir kaum ulama yang dianggap mereka telah banyak mendapat ilham Ilahi, dan lebih beriman sebagaimana tertulis dalam Taurat, (3) kaum Saduki memegang teguh ajaran Yunani tentang kehendak bebas, sedangkan kaum Farisi berpendapat bahwa kehendak bebas itu dibatasi oleh takdir Tuhan. Dengan dihancurkannya Kanisah pada tahun 70 M. Peranan kaum Saduki diakhiri, dan mereka lenyap, tetapi kaum Farisi yang tidak lagi membutuhkan Kanisah dan memusatkan diri ke Sinagogyang berkembang dan menjadi dasar bagi tradisi kerahiban yang sampai sekarang terus berlangsung dalam agama Yahudi modern. Sekte yang lain, Zealot, telah memisahkan diri dari kaum Farisi karena mereka beranggapan bahwa golongan tersebut kurang cukup mengabdi kepada tujuan kemerdekaan nasional. Kaum Zealot adalah patriot sejati yang menggabungkan kecintaan mendalampada negaranya sebagai kebaktian kepada Taurat dan bersedia untuk bertempur dan mati untuk kedua tujuan itu. Bagi mereka Tuhan adalah Tuhan Penguasa Negeri Israil, dan Bani Israil adalah ummat yang terpilih dan negerinya adalah tanah Nya, akibatnya mereka beranggapan bahwa apa yang sekarang terjadi di atasnya adalah kekejian. Mereka menganggap adalah berdosa secara moral bagi seorang putera Israil untuk tunduk kepada Romawi dan mengakui kerajaannya. Mereka berusaha dengan gerakan militer untuk membebaskan Palestina. Ada juga golongan keagamaan Yahudi lainnya, yang disebut Kaum Essene. Penemuan akhir-akhir ini dari Gulungan Laut Mati (The Dead Sea Scrolls) di lembah Qumran, Yordania, menunjukkan keterangan baru mengenai adat kebiasaan golongan ini.4 Kaum Essene walaupun perbandingannya hanya sedikit dalam jumlah pengikut, tetapi mencirikan dirinya tidak saja sebagai pemegang peran yang menonjol dalam sejarah, tetapi bahkan memiliki kedudukan kunci dalam seluruh drama alam ini. Kaum Yahudi adalah ummat terpilih dari Tuhan, dan dengan siapa Dia mempunyai perjanjian khusus. Namun tidak semua kaum Yahudi memegang teguh perjanjian ini sebagaimana disinyalir oleh kaum Essene. Bahkan mereka tidak mengerti dengan sebenarnya tentang rahmat yang terkandung dari perintah perjanjian ini. Karena itu melalui golongan khusus dari ummat yang terpilih inilah Tuhan akan mempergunakannya “untuk melapangkan jalan dari kejahilan ke arah tatanan dunia baru”, yang akan diberikannya melalui Almasih penguasa yang ditunjuk Tuhan bagi Bani Israil, dan melalui Israil ke seluruh ummat manusia. Untuk maksud ini, maka kaum Essene berbai’at bersama dalam “Perjanjian Baru” di Damsyik. Ini adalah suatu perjanjian untuk kembali kepada ajaranmurni dari Musa a.s. dan para nabi lainnya dengan dibimbing oleh seorang Guru Ketulusan. Siapakah Guru Kebenaran dan Ketulusan jni? Sayangnya tidak ada jawaban yang pasti untuk mengenalinya, dan usaha usaha ke arah ini sebegitu jauh hanya mendorong ke arah pertentangan saja. Beberapa cendekiawan telah berpendapat bahwa Guru Ketulusan ini tiada lain adalah Yesus sendiri. A. Powell Davies dalam bukunya The Dead Sea Scrolls telah menarik perhatian atau persamaan yang erat antara kaum Essene dengan masyarakat Kristen permulaan. Kaum Essene menghindari korban binatang dan menganggap fikiran yang tentram sebagai “satu-satunya pengorbanan sejati”, melibatkan diri dalam pertanian dan kesenian yang penuh kedamaian serta sangat anti perbudakan. Mereka tidak memiliki waktu untuk berdiskusi tentang filsafat, kecuali kalau ilmu tersebut menyangkut masalah etika. Mereka mengajarkan kasih sayang Tuhan, kemuliaan akhlak dan kasih sayang kepada sesamanya. Angota-anggota kelompok ini sangat menonjol rasa kasih sayangnya, kebersamaannya, dan ketidakacuhan mereka terhadap
uang dan kesenangan serta tujuan-tujuan duniawi lainnya. Merekahidup dalam kelompok-kelompok di mana mereka memiliki gudangbersama, harta milik bersama, yang masing-masing menyimpanhasil pendapatannya dan dari sana mereka mengeluarkan dermauntuk seluruh warganya. Anggota utama tidak menikah, tetapimengangkat anak-anak orang lain, mengajarkan mereka denganajaran dan praktik Essene. Kaum Yahudi menunggu kedatangan Almasih seorangketurunan raja besar Daud, yang akan mengangkat mereka daripenjajah Romawi dan mengembalikan abad keemasan Israil. Tetapiketika Sang Juru Selamat datang mereka tidak dapat mengenalinya.Isa a.s. yang mendakwahkan dirinya sebagai Almasih, menyatakanbahwa beliau datang untuk membebaskan mereka tidak saja daripenjajah Romawi, melainkan juga dari perbuatan dosa dankejahilan, dan misinya adalah membimbing mereka tidak kepadakerajaan duniawi tetapi kerajaan langit. Kaum Yahudi menolak danbahkan menyerahkan beliau kepada penguasa Romawi agardianiaya sebagai pemberontak. Pengkhianatan mereka ini cukupuntuk menurunkan kemurkaan Tuhan. Sebagai kelanjutanpemberontakan yang dipimpinan Zealots pada tahun 70 M,balatentara Romawi yang dikepalai oleh Titus dengan brutalnyamembinasakan kaum Yahudi. Kanisah dibakar dan negara Yahudidihancurkan.Mula-mula kaum Yahudi terhenyak, mereka tidak mengirauntuk hidup tak bernegara dan tanpa tempat ibadah. Namun paraRabbi tetap mencoba mempersatukan dan memberi sedikit cita-citadi kalangan mereka dengan mendirikan Akademi Sanhedran,pertama di Jabneh, dan setelah dianiaya oleh Hadrian pindah keGalilee. Di sanalah, Rabbi yang besar, Judas Sang Pangeranberkembang. Dia mengedit dn mengumpulkan tradisi lisan kaumYahudi dalam bentuk Mishnah.Dengan berlalunya waktu, kaum Yahudi terpencar ke seluruhdunia, tetapi di mana pun mereka hidup, maka mereka tetap bersatudalam loyalitas terhadap Taurat dan tradisi pendahulunya, sertamenghindari pembauran dengan masyarakat sekitarnya denganmelalui ibadah yang ketat dan hukum mereka yang aneh. Dinegara-negara Kristen sering mereka dipaksa untuk tinggal dalamkeadaan yang tidak layak, dalam Ghetto (perkampungan orangYahudi), dan harta milik mereka sering dirampok dan merekadianiaya secara brutal. Hanya di negeri-negeri Islam, termasukkaum Muslimin di Spanyol, mereka dapat menghirup udara segarkebebasan dan kebanggaan hidup. Di mana mereka memilikikesempatan, mereka menyumbang arti penting bagi kehidupanintelektual dan kultural kepada rakyat di mana mereka tinggal.Mengenai hal ini, Lewis Browne menulis dalam kata pengantarbukunya The Wisdom of Israel:“Harus diakui bahwa kaum Yahudi adalah pelajar dansekaligus pengajar dalam pengembaraannya. Mereka belajar dariorang-orang Mesir, Kanaan, Babylonia, Yunani, Parthian, Romawi,dan Arab serta kepada setiap ummat, baik dalam keadaan mesramaupun dalam keadaan duka derita. Di manapun mereka selaluberkembang tinggi, kadang-kadang naik turun atau merata
tergantung hubungan mereka dengan para tetangganya. Bilahubungan mereka ramah, perkembangannya cepat dan meningkat,bila mereka sedang dibenci perkembangannya lambat danmenyakitkan. Sungguh kontras, misalnya bagaimana kebijaksanaanbangsa Yahudi berkembang pesat selama kejayaan Islam yangpenuh toleransi, dan betapa merosotnya dalam gelap gulitanyamasa-masa Abad Kristen Pertengahan.”6Penyair Yahudi yang besar, seperti Soloman ibn Ganirol, JudahHalevi, dan Moses ibn Ezra; filosof terkemuka seperti Saadiya benJoseph, Bachya ben Joseph ibn Pakuda, Abraham ibn Daud, danyang terkenal Musa ibn Maimun (Maimonides); negarawan Yahudiyang terkemuka seperti Hasdai ibn Sharprut, Perdana Menteri dandokter istana dari Khalifah Spanyol Abd al-Rahman III, dan Samuelibn Nagdela, Wazir utama dari Granada, semuanya ini dan banyaklagi dilahirkan dan besar dalam udara bebas Dunia Islam. Dalamkata-kata Isodore Epstein ditulis:Demikianlah nasib kaum Yahudi mulai berubah di mana bulansabit berkuasa. Perubahan ini ditandai di Negeri Palestina danMesir, di mana penguasa Kristen Byzantium telah campur tangantidak saja dalam kehidupan sosial-ekonomi kaum Yahudi, jugadalam masalah internal seperti peribadatan dan synagog. Namungejala ini tidak menunjukkan kecerahan yang kuat selain diSpanyol, di mana kaum Yahudi telah menetap selama berabadabad.Raja-raja Kristen Visigothic adalah orang yang tak kenalbelas kasihan, mereka kejam dan kasar. Tetapi pewarisnya, yaknikaum Muslim tidak saja membebaskan kaum Yahudi daripenindasan, melainkan juga menggalakkan suatu peradaban yangkaya dan terbaik dapat disajikan di kalangan mereka pada masaitu.”Dengan datangnya Abad Pencerahan di Eropah, kaum Yahudimemperoleh beberapa wahana kebebasan dan rasa kemanusiaan dinegeri Barat. Pada masa itu, termasuk Moses Mendelssohn salahseorang Yahudi terbesar pada zamannya. Tetapi setelah jatuhnyaNapoleon, maka timbul kembali semangat anti Yahudi dan kaumini dihadapkan dua pilihan “kembali ke perkampungan Yahudi ataumenjadi Kristen” Banyak yang memilih alternatif kedua, yanglainnya hanya tunduk pada pembatasan yang ketat namun masihtetap patuh pada agamanya. Pada masa inilah, yakni masapenindasan gaya baru, maka ada gagasan untuk mengusahakanNegara Yahudi di mana mereka dapat bebas menganut cara hidupdan memerintah negara sendiri. Gagasan ini masuk pada alamfikiran Theodore Herzel (1860 –1901). Mula-mula ide ini diterimadengan penuh kecurigaan, tetapi belakangan menyebar bagaikankembang api di kalangan kaum Yahudi baik yang ortodoks maupundi kalangan pembarunya, dan akhirnya mengkristal dalam politikZionisme modern. Inggris setelah Perang Dunia I menjadi penguasaPalestina di bawah mandat Liga Bangsa-Bangsa, mengizinkanpembentukkan negara nasional bangsa Yahudi dari seluruh dunia diPalestina. Dengan mengikuti Deklarasi Balfour, ribuan kaumYahudi di seluruh Eropah mengalir ke Palestina, dan denganbantuan Inggris beserta sekutunya mengusir kaum Muslimin Arabdari negerinya, dan membuang mereka sebagai pengungsitunawisma. Kemudian timbullah pembantaian terhadap kaumYahudi pada zaman Hitler di Jerman, dan perpindahan kaumYahudi ke Palestina mencapai jumlah yang tak terduga banyaknya.Akhirnya pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa Bangsa yangdidominasi oleh negara-negara adikuasa, secara sewenang-wenangdan tidak adil mengeluarkan suatu resolusi pembentukkan NegaraIsrael dengan mengabaikan Palestina. Demikianlah kini kaumYahudi disediakan rumah dengan mengusir kaum Muslimin yangtelah menetap di sana sejak waktu yang tak terhitung, sebagai paratunawisma. Ratusan ribu kaum Muslimin Arab ini, sejak itu hidupdibawah kelayakan hidup manusia dalam tenda tenda pengungsiandi negara-negara Arab tetangganya, yakni di Yordania, Syria,Libanon, dan Irak. Kaum Yahudi tidak cukup puas dengankesewenang-wenangannya ini, dan tidak merahasiakan lagirencana-rencana perluasan negaranya, serta sungguh-sungguhmemperluas negerinya beberapa kali dari ukuran aslinya semulasebagai hasil peperangan dengan negara-negara Arab.Sungguh ajaib, bangsa Yahudi ini yang dahulu mereka menjadikorban penindasan bertubi-tubi dan berlarut-larut, telahmenunjukkan kecenderungan untuk menganiaya dan membantaikaum lainnya – tidak kepada kaum yang telah menganiaya mereka,yakni bangsa Kristen di Barat – dan yang sungguh menyedihkan iamembalasnya kepada kaum yang selalu menolong dan bersahabatdengan mereka, yakni kaum Muslimin.

b.      Kitab-Kitab Suci Agama Yahudi
Kitab-Kitab Suci agama Yahudi (Kisew Ha-Kosdesh) terdiri dari semua kitab yang terdapat dalam apa yang disebut Perjanjian Lama dari Alkitab Kristiani. Dalam Kanon Ibrani, kitab-kitab itu disusun dalam tiga bagian sebagai berikut. (1) Taurat (“Hukum”) –terdiri dari Pentateuch (“Lima Kitab”) yang dinisbahkan kepada Musa a.s., yakni terdiri dari kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. (2) Nebi’im (“Para Nabi”) – terdiri dari (a) Nebi’im Permulaan (misalnya Joshua, Para Hakim, Samuel, dan Kitab Raja Raja); (b) Nebi’im Terakhir terdiri dari Isaiah, Jeremiah, Ezekiel, dan “Duabelas” (seperti Hosea, Joel, Amos, Abediah, Jonah, Micah, Nahum, Habbakuk, Zephaniah, Haggai, Zechariah, dan Malachi). (3) Kethubim (“Tulisan Suci”) terdiri dari (a) Mazmur, Amzal, dan Ayub, (b) Lima Magilot, seperti Nyanyian Sulaiman, Ruth, Ratapan, Pengkhotbah, dan Esther, dan (c) Daniel, Ezra-Nehemiah dan Tawarikh. Taurat itu dianggap oleh kaum Yahudi ortodoks maupun oleh Kristen sebagai Kitab Musa a.s. yang diwahyukan kepadanya dari Tuhan. Tetapi dengan membaca sepintas saja, kita sudah dapat menunjukkan bahwa hal itu tidak mungkin. Musa, misalnya, tidak mungkin dapat menuliskan peristiwa kematiannya sendiri seperti terdapat dalam Ulangan pasal 34. Dalam bentuknya yang sekarang, Taurat atau Pentateuch berasal dari lima abad sebelum kedatangan Isa a.s. Adalah sulit untuk dikatakan bahwa bagian dari itu, walaupun sedikit, sebagaimana yang diwahyukan oleh Tuhan kepada Musa a.s. (yang hidup pada abad 15 s.M). Cendekiawan modern telah membedakan setidaknya empat bagian utama dalam Kitab Taurat.

c.       Intisari Agama Yahudi
Intisari agama Yahudi terdapat dalam Decalogue yang termasyur atau Sepuluh Perintah yang diwahyukan kepada Musa a.s. dari Tuhan. Dalam kitab kedua yang dinisbahkan kepada Musa a.s. disebut Keluaran, perintah ini tersusun sebagai berikut: “Akulah Tuhan Allahmu yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir dan tempat perbudakan. Janganlah ada padamu Allah lain dihadapanKu.” “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit, atau yang ada di bumi, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku Tuhan Allahmu adalah Allah yang cemburu dan membalaskan kesalahan bapak kepada anakanaknya, kepada keturunan yang ketiga, keempat, dan orang-orang yang membenci Aku. Tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan berpegang pada perintah-perintahKu.” “Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama Nya dengan sembarangan.”
“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ke tujuh adalah hari Sabat Tuhan Allahmu, maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan engkau atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau hambamu laki-laki atau hambamu perempuan atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi laut dan segala isinya, dan berhenti pada hari ketujuh, itulah sebabnya Tuhan memberkati
hari Sabat dan mengkuduskannya.”  “Hormatilah ayah dan ibumu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allah kepadamu.”
“Janganlah membunuh..
“Janganlah berzinah..
“Janganlah mencuri.
“Janganlah mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
“Jangan menginginkan rumah sesamamu, jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki atau hambanya perempuan atau lembunya atau keledainya atau apa pun yang dipunyai sesamamu”. (Keluaran, 20 : 2 – 17) Juga ada perintah selanjutnya dalam Imamat: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (19 : 18)
d.      Ummat Pilihan
Kaum Yahudi menganggap dirinya sebagai umat pilihan Tuhan. Terbukti mereka bertindak lebih jauh dengan menganggap Tuhan dengan perasaan khusus adalah milik mereka, dan menyebut Dia sebagai “Tuhan Raja Israil”. Dia telah mewahyukan agama Nya yang sejati hanya kepada mereka sendiri. Dengan mengutip pengarang Yahudi modern : “Kunci yang benar dalam memahami agama Yahudi dalam tafsiran mereka sendiri didapati dalam konsepsi mereka tentang “ummat pilihan”. Ajaran “pilihan” ini adalah suatu misteri ... dan suatu skandal. Hal itu merupakan misteri dalam Alkitab itu sendiri yang menetapkan pilihan Tuhan tidak kepada sifat-sifat mulia yang tertanam pada bangsa Yahudi, tetapi kepada kehendak yang tak dikenal Tuhan. Segera hal ini terbentuk, tetapi tetap sebagai suatu skandal pada orang-orang kebanyakan, dan bahkan bagi beberapa banyak orang Yahudi.Menurut Alkitab Yahweh, Tuhan Yang Esa dan Sejati mengadakan perjanjian dengan Bani Israil yang menjadikan Dia Tuhan dari Israil, dan Israil sebagai ummat Yahweh. Mereka disebut “anak Tuhan” dan dinyatakan lebih unggul dari bangsabangsalain:
“Kamulah anak-anak Tuhan Allahmu … sebab engkau ummat yang kudus bagi Tuhan Allahmu, dan engkau dipilih Tuhan untuk menjadi ummat kesayangan Nya dari antara segala bangsa yang ada di atas muka bumi” (Ulangan, 14 : 1-2) “Dan bangsa manakah di bumi seperti umatmu Israil yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi ummat Nya untuk mendapat nama bagimu dengan perbuatan-perbuatan besar yang dasyat.dan dengan menghalau bangsa-bangsa dari depan ummatmu yang telah Kau bebaskan dari Mesir. Engkau telah membuat ummatmu Israil menjadi ummatmu untuk selama-lamanya, dan Engkau ya Tuhan menjadi Allah mereka” (Tawarich, 17 : 21-22) Bahkan tanah yang diberikan Tuhan kepada Bani Israil, tanah Kanaan (Palestina) dinyatakan tidak ada tanah yang lebih seperti itu
di permukaan bumi: “Maka janganlah najiskan negeri tempat kedudukanmu yang ditengah-tengahnya Aku diam, sebab Aku Tuhan diam di tengahtengah orang Israil” (Bilangan, 35 : 34). Sifat agama Yahudi yang rasialis dan kebangsaan yang picik tampak jelas dalam kenyataan bahwa kaum Yahudi mengeluarkan kaum Samaria dari masyarakat Yahudi meskipun mereka sama-sama yakin kepada Taurat, hanya disebabkan karena mereka dianggap bersalah memperbolehkan perkawinan dengan kaum non Yahudi. Sebaliknya, orang Yahudi menganggap seorang yang dilahirkan oleh orang tua Yahudi itu, selalu beragama Yahudi bahkan meskipun dia (baik lelaki maupun perempuan) telah menjadi ateis ataupun telah membuang semua kepercayaan dan peribadatan Yahudi.

e.       Konsepsi Tentang Tuhan
Akidah agama Yahudi dikenal sebagai Shema, terurai sebagai berikut: “Dengarlah hai orang Israil, Tuhan itu Allah kita Tuhan yang Esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ulangan, 6:4-5) Agama Yahudi berlandaskan dua ajaran yang luas, keyakinan atas keesaan Tuhan dan terpilihnya Israil sebagai pembawa kepercayaan ini. Kedua ajaran ini telah mendapatkan rumusannya yang klasik dalam Shema. “Apapun yang disini telah ditetapkan”, tulis Isidore Epstein, yakni (i) bahwa tiada Tuhan kecuali Yang Esa dan tiada sekutu di sisi Nya, dan (ii) bahwa Tuhan Yang Esa dan Satu-Satunya itu adalah yang diakui dan disembah oleh Bani Israil. Penolakan terhadap Tuhan lain adalah sekuat dan seteguh penerimaan terhadap Satu Tuhan. Mereka menolak segala perwujudan dan perlambang dari Dzat yang betapa pun disucikan dan dimuliakan menutup ‘Tuhan Yang Esa dan Satu-Satunya dari Israil. Jadi mereka menolak tidak hanya Tuhan yang dualistis ataupun kepercayaan politeis, tetapi juga Trinitas dari Kristen yangbetapun hal itu ditafsirkan sedemikian rupa seolah-olah itu menjadinSatu Tuhan dalam pengertian kiasan, tetapi tetap merupakan suatu pengingkaran langsung terhadap Satu-Satunya Tuhan yang sejak awalnya telah dipilih oleh Bani Israil untuk disembahnya.” Selanjutnya, di samping ajaran tentang Keesaan Nya adalah juga ke Maha Kuasaan Nya dalam istilah Talmud “Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Kekuasaan Nya tidak terbatas oleh Kehendak Nya. Agama Yahudi juga menekankan kekuasaan Tuhan tetapi hal ini tidak berarti Dia identik dengan kekuasaan dunia atau dibatasi olehnya. Segala ajaran panteisme yang akan mengenalkan Tuhan atau mempersamakan Tuhan dengan alam ditolaknya. Berhubungan erat dengan ide transendental dari Tuhan, ialah tak terbandingkannya keilahian. Dia adalah Roh Suci, bebas dari segala batas kebendaan dan kelemahan daging. Nama-nama Tuhan yangditekankan oleh agama Yahudi yakni yang tak terbataskekuasaanNya, keadilanNya, dan rahmat karuniaNya. SelanjutnyaDia adalah “Hidup dan Abadi selamanya”. Karena itu dalam agama Yahudi tak ada tempat bagi ajaran inkarnasi serta kematian dan kebangkitan kembali Tuhan. Namun haruslah ditunjukkan di sini, bahwa konsepsi ketuhanan yang utuh tidak terdapat dengan seragam di buku-buku Alkitab. Dalam kitab yang awal, Yahweh digambarkan tidak lebih dari Tuhan suatu suku bangsa saja. Dia adalah Tuhan dari bangsa Ibrani saja, bangsa-bangsa lain mempunyai tuhan-tuhannya sendiri
(elohim). Adanya tuhan-tuhan lain ini tidak diingkari meskipun Yahweh dianggap yang paling berkuasa di antara mereka: “Siapakah di antara Elohim ini seperti Engkau, Yahweh?”(Mazmur) Politeisme juga merasuk teks semacam ini dalam Alkitab seperti “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi salah satu dari kami, untuk mengetahui yang baik dan yang jahat” (Kejadian, 3:22) Konsepsi tentang Tuhan dalam banyak teks dari Alkitab ialah antropomorfis. Dia adalalah menurut istilah Matthew Arnold, “seseorang yang gagah perkasa dan tidak seperti orang biasa.” Dia tidak beristeri dan beranak, tetapi hidup di langit dengan makhluk lain yang lebih rendah dari dirinya yang disebut juga tuhan-tuhan
atau Elohim (Keluaran 15: 11, Mazmur 86:8, Mazmur 97: 7-9).

f.       Doktrin Dasar Lainnya
Salah satu aspek yang penting dalam agama Yahudi adalah keyakinan bahwa Tuhan berkomunikasi kepada manusia melalui perantaraan ramalan. Ia menjaga hubungan dengan manusia melalui wahyu Nya dan hukum Nya kepada ciptaan yang disayangi Nya. Untuk maksud tersebut, Dia memilih Putra Israil dan membangkitkan nabi-nabi Nya hanya dari kalangan mereka. Ummat Yahudi percaya bahwa Musa a.s. adalah nabi terbesar dari segala nabi yang Tuhan berkomunikasi langsung dengan cara Nya, yang keseluruhannya ada dalam Torah (yakni Pentateuch) telah diwahyukan kepada Musa a.s. oleh Tuhan; dan Torah tidak akan mengalami perubahan atau menggantikan dengan wahyu lain dari Tuhan. Manusia, menurut ajaran Yahudi, diciptakan dari citra Tuhan. Ia dapat jatuh ke dalam sekali, tetapi ia tidak oleh dosa yang tidak dapat diampuni. Dosa adalah melawan kehendak Tuhan, tetapi lebih serius lagi menurunkan derajat manusia. Tobat seseorang akan mengembalikan kesuciannya. Tuhan Maha Pengasih dan memaafkan dosa-dosa orang yang bertaubat. Agama Yahudi percaya bahwa Tuhan mengetahui setiap perbuatan manusia dan semua yang difikirkannya. Ia mengganjar siapa-siapa yang memegang Perintah Nya dan menghukum siapasiapa yang melanggar Perintah Nya. Dalam Alkitab sendiri dikatakan tempat manusia hidup adalah di dunia. Tetapi ajaran Yahudi datang pada suatu kepercayaan bahwa setelah kebangkitan dari kematian, akan ada kehidupan di sorga dan di neraka. Doktrin dasar lainnnya adalah tentang kedatangan Messiah (atau seorang yang dijanjikan), turunan langsung dari garis Daud, siapa yang akan menerima masa Mesiah ini akan melihat Bani Israil dikumpulkan kembali ke tanah Israil. Beberapa kalangan yakin bahwa Messiah akan datang sebagai hasil katalisasi dan mukjizat alam. Tetapi lainnya berpandangan lebih realistik. Mereka percaya bahwa Messiah ketika datang, musuh-musuh Tuhan dan hamba Nya terkalahkan, takhta kekuasan Daud dibangkitkan dan juga kedaulatan Putra Israil, tetapi hal itu tidak akan ada perubahan radikal atau mengejutkan dalam tatanan ciptaan.

g.      Bentuk Dan Tata Upacara
Pengorbanan mendapat tempat utama dalam Taurat, maupundalam pencatatan sejarah mereka. Pelayanan terhadap tempatibadah dipaparkan sebagai cita-cita yang besar dan tujuan denganmana Tuhan menciptakan bumi ini, menempatkan bangsa-bangsa didalamnya, dan menyebut Israil ummat Nya yang terpilih. Upacaraupacarapengorbanan yang harus dilaksanakan sampai kepadahancurnya Kanisah itu sendiri dapat dipelajari dalam KitabKeluaran dan Imamat. Kita baca perintah dan kelompok pendetayang mempersembahkan pengorbanan sehari-hari serta yanglainnya, sesuai dengan aturan di mana sampai rincian sekecilkecilnyadiatur dengan sangat hati-hati. Berikut ini adalahgambaran dari karya sebagian kecil upacara pengorbanan ini:“Kemudian haruslah kau ambil domba jantan yang satu, danHarun beserta anaknya meletakkan tangannya atas kepala dombajantan itu. Haruslah kau sembelih domba jantan itu dan kau ambildarahnya dan kau siramkan pada altar sekitarnya. Haruslah kaupotong-potong domba jantan menurut bagian-bagian tertentu, kaubasuhlah isi perutnya dan betis-betisnya dan kau taruh itu di ataspotong-potongan dan di atas kepalanya. Kemudian haruslah kaubakar seluruh domba jantan itu di atas altar; itulah korban bakaran,suatu persembahan yang harus bagi Tuhan, yakni suatu korban apiapianbagi Tuhan” (Keluaran, 29: 15-18)Bagi seorang pengamat luar, upacara pengorbanan agamaYahudi tampak tidak banyak berbeda dengan yang dijalankan dikalangan bangsa Yunani atau Romawi, hanya sudah pasti kaumYahudi menjalankannya dalam skala yang lebih besar. Apa yangdimaksud atau dituju oleh upacara-upacara itu, tepatnya sukarkiranya dikatakan oleh orang Yahudi sendiri. Hal itu dikerjakan iakarena dinyatakan dalam hukum, dan hukum haruslah dipatuhi,bahkan jika orang tersebut kurang faham atau awam yangdiperintahkan. Korban harian yang dipersembahkan setiap haridimaksudkan untuk menghilangkan hal-hal yang tidak suci daripengurus tempat ibadah, dan meyakinkan ummat bahwa rahmatkarunia Tuhan tetap turun kepada mereka. Banyak upacara-upacarakorban dimaksudkan untuk menghilangkan dosa-doasa tertentu,rasa syukur juga dinyatakan di dalamnya, dan perasaan-perasan lainjuga dapat dipanjatkan melalui asap altar.Dalam agama Yahudi, tekanan kesucian berhubungan eratdengan ibadah. Segala sesuatu yang bersangkutpaut dengan upacarakorban - rumah ibadah, pendeta, kendaraan, dan korban itu sendiri– direncanakan sebagai hal yang suci. Barang-barang dan orangorangadalah suci yang semuanya itu milik Yahweh dan ditarik daripemakaian sehari-hari. Adalah berbahaya untuk menyinggungnyadengan semena-mena. Yang bersangkut paut dengan tekanan ataskesucian, yakni kemurnian. Dalam agama Persia yang sebagaimanaditunjukkan oleh agama Majusi, pembedaan harus selalu diingatoleh pemeluknya antara apa yang termasuk dalam roh baik dan apayang sudah jatuh ke bawah pengaruh roh jahat. Begitu pula dalamkalangan agama Yahudi. Orang yang disebut suci harus terpisah,dan orang lain hidup dalam ketakutan kalau-kalau menyentuhsesuatu yang tidak suci, karena hal itu dia memisahkan kesuciannyasendiri. Ada binatang yang dihalalkan, dan ada juga yangdiharamkan di mana dia tidak boleh memakannya, macam-macampencuci tangan dan perabotan rumah tangga diperlukan agar diatetap dalam keadaan suci: banyak macam-macam perniagaan yangkarena harus berhubungan dengan berbagai golongan manusia yangmembuat tidak memungkinkannya tetap suci. Di atas segalanyaadalah terlarang untuk memakai masakan orang yang tidak seiman,atau duduk satu meja bersama penyembah berhala. Karena ituorang Yahudi teguh dalam kepercayaan, atau keunggulan dirinyasendiri dari orang-orang lain dari ras yang berbeda, dan diharamkan
dengan berbagai hambatan untuk bercampur dengan mereka,bahkan untuk menganggapnya sebagai saudara.Setelah penghancuran Kanisahnya, maka upacara-upacarakorban harus dilepaskan dan tempatnya digantikan dengan ibadatsehari-hari. Rukun ibadatnya meminta setiap orang Yahudibersembahyang tiga kali sehari, jika mungkin di Kanisah,mengucapkan doa syukur sebelum dan sesudah makan, bersyukurkepada Tuhan atas setiap kesenangan, seperti penglihatan yanganeh, bau harum sekuntum bunga, atau diterimanya kabar baik,memakai busana yang lepas di sekujur tubuh (tzitzith), membawajimat (tifillin) sewaktu sembahyang pagi. Selanjutnya sebagai suatulambang janji Tuhan kepada Nabi Ibrahim a.s. setiap anak Yahudilaki-laki harus dikhitan ketika dia berumur delapan hari. Bila diatelah mencapai usia tigabelas tahun, maka seorang anak lelakiYahudi memperoleh peresmiaan kedewasaannya (Bar Mitzvah) danterikat kepada kewajiban-kewajiban serta pribadinya denganmemakai tifillin padanya, dan ‘dipanggil’ untuk membaca Taurat didepan umum.Gambaran umum yang penting dalam kehidupan keagamaankaum Yahudi ialah ‘Musim yang ditentukan’ - - - Pesta dan Puasa.Yang utama dari hal ini ialah Sabbath, hari istirahat mingguan.Sesuai dengan citra Rabbinic, manusia adalah mitra Tuhan dalampenciptaanNya. Tuhan bekerja menciptakan dunia ini dalam enamhari, dan kemudian Dia beristirahat, manusia pun bekerjamenjalankan tugasnya sehari-hari dan harus beristirahat. Tauratmemerintahkan istirahat penuh dari setiap pekerjaan.Selain hari Sabbath, pada setiap minggu kaum Yahudi jugamerayakan tiga hari besar pada setiap tahun yang juga adalah hariistirahat. Dihubungkan dengan musim panen dari Tanah Suci, pestafestival ini dipercaya sebagai mengenang peristiwa-peristiwabersejarah dalam kehidupan bangsa Israil. Yang terdepan dariperistiwa ini ialah Passover yang jatuh pada tanggal 19 Nisan(Maret- April) yang berlangsung selama tujuh atau delapan hari.Pada musim semi, yakni terakhir kembalinya Alam. Passover ialahmemperingati hari lahirnya Israil sebagai bangsa dan hijrahnya dariperbudakan di Mesir.Tujuh minggu setelah Passover, kaum Yahudi merayakanShavouth, yakni Pesta Mingguan atau festival panen gandum. Halini bersangkut paut dengan panen bangsa Israil – yang disebut jugaWahyu Ilahi kepada Musa a.s. di Bukit Sinai di mana beliaumenerima Sepuluh Perintah Tuhan. Pada zaman dahulu, hal iniditandai dengan membawa buah-buahan pertama dari hasil panenke rumah ibadah.Festival ketiga yakni Sukkoth (sepatu) Pesta ini jatuh padatanggal 15 Tishri (September-Oktober) berlangsung tujuh hari dandirayakan pada akhir penutupan panen anggur. Hal inidimaksudkan untuk mengenang empat puluh tahun pengembaraankaum Yahudi di padang pasir..Tahun baru agama Yahudi (Rosh Hashanah) yang jatuh padapermulaan Tishri dianggap sebagai ulang tahun penciptaan.Sepuluh hari dari Ros Hashanah melalui Yom Kippur (HariPenebusan), dikenal sebagai “Sepuluh Hari Pertobatan”. Ini hariyang paling sunyi dari setahun, karena selama masa itu seluruhdunia sedang diadili di hadapan Aras Tuhan di langit. Pada hariYom Kippur, maka kaum Yahudi tidak makan atau minum apa pun.







III.             Penutup
Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa asal-muasal ajaran yahudi berasal dari keturunan nabi Ibrahim dengan diwariskan oleh keturunan-keturunan Ismail dan Ishak, dan setelah itu oleh Ya’qub yang mengalami peristiwa ajaib di mana dia bergulat dengan salah satu malaikat, yang kemudian dinamakan Israel, suatu istilah yang berarti kampiun Tuhan.

Daftar Pustaka
Ulfat  Aziz-us-Samad, The Great Religion of the World :India, 1990