artikel
I’m Muslim But I’m Not Terrorist
sumber Gambar : http://politik.rmol.co/read/2017/08/10/302536/Islam-Bukan-Teror-
Allah menciptakan manusia dari
berbagai keberagaman suku, bangsa, ras, dan agama. Perbedaan itu merupakan
sebuah rahmat yang diajarkan oleh agama Islam. Dengan adanya perbedaan ini
manusia sepakat atas nama kemanusiaan untuk menjunjung tinggi perbedaan dengan
toleransi dan humanisme. kita teringkat ketika kasus 212 kala itu yang menjadi
titik temu pada surat al-maidah ayat 51 terkait penistaan agama.
Ketika kita mengkaji teori ternyata
jauh 14 abad silam ketika ayat ini turun dilatar belakangi oleh sebuah riwayat
yang menyebutkan bahwa Abdulah bin Ubay dan Ubadah bin tsamit yang melakukan
perjanjian oleh Yahudi bani Qauniqa tetapi kaum Yahudi melakukan pelanggaran
perjanjian dan berbalik memerangi Rasulullah SAW. Maka Ubadah bin Tsamit
melepaskan diri dari perjanjiannya dan melakukan perlawanan membela Rasulullah
dan turunlah ayat ini (Lihat Asbabun Nuzul Imam As-Suyuti, Tahqiq : Syaikh
Hafiz Syi’isya halaman 231-232). Dari kasus diatas kita bisa ambil sedikit
pelajaran bahwa Agama Islam selalu menjunjung tinggi persaudaran dan menghargai
sebuah perjanjian yang telah dibuat bahkan sesama umat antar agama sekalipun.
Sejarah mencatat semua peperangan yang dilakukan oleh Islam bukan semata untuk
menguasai kaum lainnya, malainkan satu pembelaan betapa besar harga nyawa
seseorang atau nilai humanisme.
Bom surabaya yang
di ledakan terjadi di tiga gereja di Surabaya,
yaitu Gereja Maria Tak Tercela di Jalan Ngagel Madya, Gereja Kristen Indonesia
(GKI) di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat di Jalan Arjuna
(Kompas.com) adalah salah satu contoh penyelewengan dari ajaran agama Islam.
Islam mengajarkan bagaimana cara kita menghargai hidup manusia hingga kami
teringat sebuah hadist Rasulullah SAW yang di cantumkan di kitab fatul mu’in
karya Ibnu Hajar tentang membela darah seseorang merupakan tindakan yang utama
hingga di beri gelar syahid jika seorang itu gugur ketika membelanya.
مَنْ قٌتِلَ دُونَ دَمِهِ اَوْ
ماَلِهِ اَو اَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ
“Siapa orang yang dibunuh membela darahnya atau keluarganya atau
hartanya maka ia termasuk orang-orang yang mati syahid”
Dari perkataan Rasulullah tersebut
kita bisa merenungi betapa tingginya Islam menempatkan orang-orang yang mati
membela manusia lain seperti keluarga kita, membela tanah air kita. Ini sebagai
satu contoh betapa tingginya Islam menghargai hidup manusia, dan menjunjung
hidup damai dengan kebhineka-an. Kami menghimbau bahwa agama Islam tidak
mengajarkan merampas hidup seseorang dengan cara memborbardir. Kalo saja kita
mau menganalogikan ketika kita menanam satu buah pohon mangga yang kala itu
tiba saat panen hingga terhitung 100 buah misalnya, namun sangat disayangkan
ada 2, atau 3 buah itu yang buruk. Maka apakah adil jika kita sebut pohon
mangga ini adalah pohon yang berbuah jelek padahal ada 97 buah mangga yang
baik.
tentu tidak logis untuk mengadili
dengan melihat satu sisi saja. Itulah yang terjadi saat ini, dimana para teror
bom itu mengumandangkan takbir maka dengan kasus itu mengecam Islam adalah
seorang teroris. Ini sangat tidak adil dengan perbandingan yang demikian
adanya. Islam adalah agama Rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam
yang dibawa oleh seorang yang berbudi pekerti yang luhur, berjiwa luhur yang
tinggi, misi beliau adalah menyempurnakan akhlak bagi pengikutnya. Terutama
akhlak sesama manusia.


Post a Comment
0 Comments