artikel
Negeri Angin
Saya pernah membaca novel salah satu karya penulis hebat, nama
penulisnya adalah Tere Liye. Siapa yang tak kenal beliau, semua
penggemar novel pasti mengenalnya. Satu novel yang berjudul Ayahku bukan
pembohong adalah novel yang keren, menarik, dan inspiratif. Novel itu menceritakan
seorang anak yang bernama Dam hidup dari seorang Ayah yang penuh kesederhanaan,
dan dia asuh oleh seorang Ibu yang menderita sakit, tapi obat dari sakitnya
adalah kebahagiaan.
Saya masih mengingat
bagaimana cerita Ayahnya Dam tentang negeri angin. Negeri yang tentram, negeri
yang kaya nan makmur. Awalnya rakyatnya pasrah karena negeri itu tandus, bak
gurun sahara. Tapi, begitu seorang pemuda datang dan mengunbah segalanya. Negeri
itu menjadi negeri subur karena ketekunan dan kerja keras pemuda itu. Ia meyakinkan
rakyat negeri itu untuk bahu-membahu mengubah semuanya. Alhasil semuanya
berubah menjadi tempat yang subur dan sejahtera.
Namun, keadaan
seperti itu tidak berlangsung lama. Datang penjajah yang ingin merebut kesajeraan
rakyat negeri angin itu. Perpecahan pun terjadi, tapi mereka tidak tinggal
diam, mereka melakukan perjanjian untuk bertarung. Seperti taruhan, yang kalah haru
meninggalkan negeri itu. Pemuda di negeri itu membuktikannya dengan sikap
sportipitas, semangat juang, dan kesadaran akan ilmu pengetahuan untuk bisa
mengalahkan penjajah itu. ternyata yang berhasil memenangkannya adalah pemuda
dari negeri angin itu. Penjajah pun berhasil diusirnya.
Saya rasa apa yang
diceritakan oleh Ayahnya Dam adalah bentuk sempit dari negeri ini. Negeri yang
dahulu tandus dengan ilmu pengetahuan, serta negeri ini pun tandus dari
kesejahteraan akidah. Datanglah para pemuda gagah ditangannya membawa api
tauhid untuk menyinari hati yang gelap bak malam tanpa cahaya rembulan. Meraka menyirami
tanah dalam qolbu rakyat di Nusantara ini dengan cahaya ilahiah.
Negeri ini menjadi
subur akan cahaya keimanan, meraka bergerak tanpa pamrih menebarkan dan
meninggikan kalimat-kalimat tauhid dihati rakyat Nusantara ini. Zaman berganti,
hari berpindah, serta genarasi pun mengalami perubahan. Negeri ini menjadi
subur akan kalimat tauhid itu, bahkan negeri ini menjadi masyarakat muslim
terbesar di dunia.
Namun, hari ini
datanglah para penjajah itu, ingin mengoyak-ngoyak hati kita. Penjajah itu
mengadu domba sana-sini, media dijadikannya senjata untuk memojokkan
kebersamaan kita. Media dijadikannya seolah komunitas satu melecehkan ideologi komunitas
lainnya. Berkedok kebajikan, padahal menebar kebencian. Mereka menghujat
petinggi agama kita, mereka memporak-porandakan barisan kebersamaan kita.
Negeri ini
kehilangan keharmonisan gotong royong lagi, negeri ini kehilangan rumput hijau
yang indah saat kita tatap dipagi hari dengan tetesan embun pagi menimbulkan
kedamaian dihati. Semuanya hilang terbakar amarah dan emosi kita, padahal penampakan
matahari terbit masih sangat indah dipandang, tapi hari ini memandang matahari
terbit sudah tidak terasa damai lantaran peperangan ideologi sesama muslim
terjadi sana-sini.
Mulai dari pentas
212 desember lalu sampai ada yang bilang tidak mencintai Qur’an jika tidak
turun aksi 212. Hingga hari ini pembakaran bendera tauhid dengan alih-alih
menghinakan kalimat tauhid. Padahal hal itu adalah sebuah ikhtilaf dari
pandang hamba menginterprestasi teks Tuhan dalam kitab suciNya, dan perbedaan
memaknai hadist Rasulullah SAW. Mereka yang dianggap salah pun sudah
meminta maaf, atau bahkan memang ternobat salah pun pada akhirnya sudah minta
maaf. Padahal Cuma persepsi ikhtilaf, padalah itu hal yang mafhum.
Apa yang akan kita
perbuat?
28 oktober lalu
pemuda negeri ini membuat sebuah catatan penting dalam memerangi penjajah itu. Melawan
tegas para penjajah yang menggunakan berbagai macam sarana untuk mengoyak-oyak
kesejahteraan negeri ini. Mungkin, hari ini kita kesulitan menemukan pemuda
itu. Kemana lagi kita akan mencari pemuda seperti yang tercatat pada sejarah 28
oktober lalu.
Saya bertanya pada
samudera lepas mereka tertawa dengan membalas ombak-ombang yang berenang
ketepian. Saya bertanya pada langit, ia hanya tersenyum. Saya bertanya pada
pohon-pohon di pinggir jalan kota Yogyakarta ini mereka saling berbisik tidak
karuan. Cuma angin dan lembaran-lembaran buku sejarah yang dapat menjawab pertanyaanku
ini. Katanya yang kau cari ada pada lemari kumuh digedung yang bertuliskan
perpustakaan disana bertengger buku-buku akademisi yang hampir kusam dimakan
waktu.
Aku bertanya pada
lembaran buku sejarah itu apa maksudnya ini?
Jawabnya singkat “bacalah
!”
Sekarang saya tahu apa maksudnya ini, jawabnya adalah sebuah
literasi. Kenapa hari ini pemuda kita lengah, kita tertindas oleh penjajah yang
memangku teguh kesejahteraan negeri ini. Kita disibukan dengan masalah ikhtilaf
padahal banyak keilmuan yang belum kita raih. kita selalu bergantung pada
media-media saat ini yang dijadikan pasar jual beli informasi untuk mengadu
dombakan kita satu sama lainnya. Padahal atas nama mahasiswa kita bersumpah
bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.
Hari ini moral kita tertindas, dengan bukti kita hanya men-share
berita tanpa mengklarifikasinya. Kita tidak cerdas memilah dan memilih
informasi, hal ini karena kita tidak mementingkan literasi kita. mari kita
bangkit untuk mengusir penjajah itu untuk meraih kesejahteraan di negeri ini,
mari kita kuasai diri kita dengan keilmuan kita untuk memerangi para penjajah
itu. Selamat hari sumpah pemuda 28 Oktober 2018.
-Muhamad Jamaludin-


Post a Comment
1 Comments
Mantap ....
ReplyDelete